Wajah yang tak Berpaling
Syamsul Bahri.-Dok Pribadi-
Cerpen Syabaharza
HALAMAN parkir sebuah lembaga pendidikan pagi itu sudah sarat dipenuhi oleh berbagai macam kendaraan. Mulai dari kendaraan roda dua dan roda empat dengan berbagai merk. Kendaraan-kendaraan itu sudah tersusun rapi semenjak pagi. Di dalam kendaraan-kendaraan tersebut juga sudah penuh dengan keluarga pengantar serta barang-barang keperluan sehari-hari.
“Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuh, diinformasikan kepada seluruh orang tua/wali santri baru, untuk segera menuju ke ruang pertemuan”.
Sebuah pengumuman yang disiarkan melalui corong sebuah masjid dalam lingkungan tersebut membuat sebagian besar keluarga yang mengantar anaknya bergegas menuju tempat pertemuan. Ada yang tergesa-gesa sehingga sambil berjalan sambil mengenakan kancing bajunya, ada yang memang sudah siap sehingga berjalan dengan santai sambil menebarkan senyum kepada orang yang dilewatinya. Ada juga yang masih bingung mencari tempat pertemuan sehingga mereka terlihat bertanya-tanya kepada panitia yang ada.
Dalam waktu sekitar sepuluh menit, semua keluarga yang mengantar anaknya sudah berkumpul di ruang pertemuan. Yang tadinya berjalan tergesa-gesa sambil memasang kancing bajunya juga sudah hadir dengan baju yang sudah rapi. Yang tadinya bertanya posisi ruang pertemuan juga sudah hadir. Yang tadinya suka tersenyum juga sudah hadir dan tetap dengan mengeluarkan senyum khasnya.
Panitia acara hari itu juga sangat profesional. Sehingga penempatan posisi sangat presisi. Jemaah laki-laki diletakkan sesama laki-laki di belakang anak-anak mereka begitu juga sebaliknya jemaah perempuan mendapatkan tempat sesuai dengan peruntukannya. Dan beberapa menit kemudian acara pun dimulai.
Pada awal acara semua berjalan baik-baik saja. Mulai dari sambutan-sambutan semua masih normal. Tawa ria semua peserta sesekali muncul tatkala keluar celutukan humor dari narasumber. Sang narasumber begitu piawai memainkan kata-kata sehingga peserta pertemuan hari itu terasa tidak sedang dihadapkan oleh sebuah dilema. Bahkan sampai acara doa penutup pun suasana masih mencair.
****
“Bapak-bapak, ibu-ibu! Sekarang kami masih mengizinkan untuk bercengkerama dengan anak-anaknya, tapi nanti bakda zuhur kami mohon keikhlasannya untuk meninggalkan anak-anaknya di sini!”
Imbauan itu tiba-tiba mengubah suasana menjadi seratus delapan puluh derajat. Suasana yang tadinya masih gembira secara drastis menjadi sebuah kesedihan. Suasana di ruangan itu bercampur. Suasana suka dan duka membaur menjadi satu tidak bisa lagi dibedakan.
Ibarat adonan segelas kopi oleh seorang barista yang andal, tidak bisa lagi dibedakan mana peran objek yang dominan. Semua hanya bisa menikmati dan meresapinya. Ruangan itu dipenuhi oleh sebagian besar orang tua yang berusaha menahan rasa campur-aduk tersebut menjadi suatu ketegaran yang luar biasa.
Rasa suka dan duka itu menjelma menjadi sebuah perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan dengan adanya pencampuran rasa pada saat itu membuat sebagian orang tua terkadang sudah menghilangkan rasa-rasa yang lain, seperti perasaan haus dan lapar tidak dipedulikan lagi, sehingga apa pun yang dihidangkan saat itu sebagian besar tidak dihiraukan lagi.
Bagi sebagian orang tua yang sudah terbiasa dalam situasi seperti itu mungkin saja mereka bisa mengendalikan emosinya. Namun walaupun tetap menguasai emosi pada saat itu tetap saja terkadang perasaan masygul menjelma dalam diri mereka. Kalau bagi yang pertama kali dalam kondisi seperti itu tentu saja sangat berat menghadapinya.