Menyambut Tamu Allah
Syamsul Bahri.-dok-
Oleh: Syamsul Bahri
Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
PROSESI ibadah haji tahun 2026 sudah sebagian besar terlaksana, untuk pelaksanaan di dua kota suci sudah dilewati dan sekarang dalam proses masa pemulangan jemaah haji khususnya Indonesia. Dari informasi yang ada proses pemulangan jemaah haji Indonesia dimulai tanggal 1 Juni 2026 sampai 15 Juni 2026 untuk gelombang pertama dan tanggal 7 Juni 2026 sampai 30 Juni 2026 untuk gelombang kedua melalui Madinah.
Pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 terasa sangat spesial karena diselenggarakan oleh kementerian baru, kementerian Haji dan Umrah sengaja dilahirkan dengan harapan pelaksanaan ibadah haji lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Walau sempat dibayang-bayangi oleh persoalan tahun sebelumnya, dengan banyaknya problematika pelaksanaan haji, Kemenhaj ternyata mampu menjawab tantangan tersebut. Setidaknya ada beberapa lembaga yang menilai pelaksanaan haji tahun ini sudah banyak mengalami peningkatan kualitas.
Pengakuan tersebut disampaikan wakil ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal, menurutnya pelaksanaan ibadah haji 2026 menunjukkan kemajuan dibandingkan penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, DPR RI masih mencatat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi, khususnya terkait pelayanan jemaah di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Penilaian tersebut disampaikan Cucun berdasarkan hasil pemantauan sementara Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI yang melakukan pengawasan langsung terhadap penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi. “Alhamdulillah, jika kita membandingkan dari tahun ke tahun, harus disampaikan secara jujur bahwa pelaksanaan haji tahun ini telah menunjukkan lompatan transformasi yang cukup baik,” kata Cucun kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (nu.or.id).
Penilaian juga disampaikan anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, Abdul Wachid, ia menilai penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 menunjukkan perbaikan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pelaksanaan haji yang untuk pertama kalinya dikelola penuh oleh Kementerian Haji dan Umrah disebut lebih tertata, terutama dalam penempatan jemaah, layanan hotel, hingga mobilisasi menuju Arafah.
Menurutnya, penyederhanaan syarikah dari delapan menjadi dua perusahaan layanan membuat penataan jemaah lebih mudah. Selain itu, penggunaan kartu Nusuk dan tasreh membantu percepatan layanan sekaligus memudahkan jemaah mengetahui lokasi hotel dan kelompoknya masing-masing sejak tiba di Arab Saudi.