Dibayar Tuntas di Padang Arafah
Ahmad Zainul Hamdi.-Dok Pribadi-
Ahmad Zainul Hamdi
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan
SEBAGAI petugas yang ditempatkan di kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, saya memiliki sedikit privilege saat wukuf di Arafah, yaitu bisa menggunakan toilet VIP yang disediakan untuk para pejabat dan rombongan Amirul Hajj. Apa yang disebut dengan toilet VIP ini adalah toilet portable yang dipasang di belakang tenda tamu VIP, sehingga mereka tidak ngantre dengan para jemaah lain. Itu saja.
Seperti yang lain (berdasarkan obrolan di antara kami), siklus BAB kami selama di Arab Saudi ikut-ikutan jetlag. Kalau biasanya BAB rutin di pagi hari, selama di Arab Saudi keinginan BAB bisa datang tanpa mengenal waktu. Nah, ini yang tidak jarang buat masalah, terutama ketika keinginan BAB datang tak tepat waktu.
Saat wukuf Arafah tengah hari, keinginan BAB itu datang tanpa kompromi. Saya mencoba menahannya karena cuaca yang sangat panas di luar tenda. Tapi keinginan itu sudah tak tertahankan. Bahkan ada indikasi “barangnya” sangat lembek seperti bubur yang kebanyakan air. Akhirnya saya lari terbirit-birit ke toilet VIP. Saya sungguh merasa beruntung menjadi “petugas elit” yang punya akses ke toilet para pejabat tinggi dan orang-orang penting. Tidak terbayang jika harus antre dengan para jemaah. Mungkin sudah dleweran sebelum membuka pintu toilet.
Begitu masuk, langsung buka kain ihram sret, duduk plek, dan brottt!. Semua berjalan begitu cepat. Lega sekali. Sambil menikmati kelegaan di toilet VIP, saya ingat tulisan di pantat truk, “Tuhan tidak menyukai hambanya yang tidak sat set dalam bekerja.” Saya membayangkan tulisan itu sambil senyum-senyum sendiri. Saya cukup bangga dengan aktivitas sat set saya di toilet. Hebat!
Setelah selesai, saya langsung ambil jet shower untuk membersihkan bagian belang dan depan (BAB otomatis pipis juga khan). Begitu jet shower saya tekan, wush…airnya keluar dengan sangat kencang. Seketika saya terpekik “Aduh mboook”. Rupanya air yang keluar sangat panas. Panasnya seperti air panas dispenser yang bisa dipakai masak pop mie.
Saya baru sadar bahwa air ini berasal dari tandon luar yang terpanggang sinar matahari. Cuaca saat itu adalah sekitar 45 derajat Celsius. Jadi bayangkan betapa panasnya air itu. Apalagi disemburkan oleh jet shower yang cukup kencang. Rasa panasnya jadi berlipat-lipat.