Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Penidir

Ahmadi Sopyan-screnshot-

Oleh : AHMADI SOFYAN

Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya

NEGERI ini kian “Penidir”. Proyek berjudul program menguras uang negara bernama MBG tidak mampu mengobati “kependirian” tersebut. Kedepan kita akan menyaksikan Indonesia era penidir, rakyat penidir, pemerintah penidir dan aparat penidir. 

------

DULU, semasa kecil di kampung (Kemuja), kalimat itu menjadi kalimat yang tak asing lagi. Tapi seiring perjalanan zaman, banyak sekali bahasa-bahasa lokal yang tergerus, apalagi anak-anak muda masa kini salah kaprah karena merasa kampungan jika berdialog dengan menggunakan bahasa daerah (kampung). 

Penidir, dalam bahasa lisan masyarakat kampung di Pulau Bangka bermakna anak-anak yang badan (raga) yang gampang sakit, kurang memiliki kekebalan tubuh, berwajah pucat dan perkembangan tubuhnya yang lambat (stunting). Tapi bagi saya pribadi, kalimat “penidir” ini memiliki filosofi atau makna tersendiri jika dikaitkan dengan kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara. Jika “penidir” dimaknai gampang sakit, maka bisa dikatakan negeri kita ini adalah negeri penidir yang sangat mudah dirasuki berbagai macam kuman penyakit, baik dari dalam tubuh sendiri maupun dari luar.

Betapa bangsa ini yang sudah berusia sepuh hampir 80 tahun, ternyata masih mengalami ke-penidir-an. Kekebalan tubuh sudah kian menipis, dengan dibuktikannya patriotisme, idealisme dan nasionalisme yang kian terkikis. Betapa kita menjadi bangsa yang begitu gampang tertular kuman penyakit bernama adu domba, fitnah, berlomba-lomba menguras uang negara, saling menyerang, saling menghujat, saling menebar benih kebencian dan saling mengancam. Bahkan benteng kekebalan terakhir bernama agama, di era sekarang ini justru dihina dan dilecehkan. Dokter benama ulama dihujat, dicaci maki, difitnah, ditangkap, diborgol, diawasi dan berbagai penghinaan lainnya. Aparat hukum yang seharusnya bisa menegakkan sendi-sendi kesehatan bangsa, justru kerapkali bertingkah kurang waras sehingga sangat mengganggu kestabilan tubuh (bangsa). Oleh karenanya tak berlebihan jika hari ini saya katakan bahwa sebetulnya ke-penidir-an itu ternyata dari dalam tubuh kita sendiri.

Jika hari ini kita melihat wajah bangsa begitu pucat, perkembangan yang melambat, tidak lain karena ke-penidir-an kita yang kian akut. Semua ini diawali dari mental anak negeri yang kian hari kian rapuh. Seiring perjalanan zaman, mental anak negeri rapuh akan duniawi. Banyak penguasa dibeli oleh pengusaha, aparat bergantung pada lembaran uang dan karier, pengadilan kian banyak tapi keadilan kian menjauh, kehidupan beragama sudah menjadi hal yang menakutkan dan ditakuti, kebebasan berekspresi dianggap bagian dari demokrasi dan sebagainya. 

Selain selalu pucat, para orangtua di kampung di Pulau Bangka mengatakan bahwa orang yang penidir cenderung kurang fokus karena lesu dan mentalnya cenderung lemah. Tentunya akibat penidir ini membuat seseorang susah menentukan sikap (tidak tegas) serta gampang terombang ambing dalam kehidupan sehari-harinya. Nah, jika ini dikaitkan pada kehidupan berbangsa saat ini, kita saksikan betapa banyak anak negeri yang “penidir”. Bukan rahasia lagi yang ditangkap adalah bukan yang salah, tapi yang tidak pro pemerintah. Jadi sekarang ini seseorang bisa dihukum atau bebas, bukan persoalan salah atau benar, tapi pro atau kontra dengan pemerintah yang sedang berkuasa atau tidak. Nah, inilah salah satu penyebab besar mengapa “kegaduhan” kian menjadi-jadi di negeri kita saat ini.

72 tahun bangsa Indonesia seharusnya tidak lagi memiliki penyakit penidir. Diusia yang sepuh ini seharusnya menjadi kian dewasa, terutama aparat dan penguasa negeri. Jangan ciptakan generasi yang bermental penidir, gampang tertular kuman, lesu dalam berkarya, serak suara, tidak enjoy bekerja, kurang fokus dan berwajah pucat tanpa warna. 

Satu hal yang paling penting, Penidir tidak bisa diselesaikan dengan MBG. Proyek makan yang menguras uang negara!

Salam Penidir!***

 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan