Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Proyek Sang Videografer

Syabaharza.-Dok Pribadi-

Cerpen Syabaharza

“Kamu jangan ikut-ikutan kegiatan seperti itu!, Mendingan cari pekerjaan lain, pekerjaan itu terlalu berisiko.”

 

Suara ibunya Aswal memecahkan keheningan subuh itu. Suara khas ibu-ibu yang lagi mengomeli atau sebagian orang bijak menyebutnya menasihati sang anak itu, tidak bisa dibendung oleh Aswal dan ayahnya. 

 

Sang ayah yang sedari tadi terus menghisap rokok kreteknya hanya bisa terdiam. Sambil mengeluarkan asap dari mulutnya sang ayah tampak sangat menikmati sisa rokoknya. Sang ayah tidak berani membantah omongan sang ibu. Di samping memang ada benarnya apa yang diutarakan sang ibu, sang ayah juga tidak ingin menambah konflik di rumah itu. Sebab jika ia menyahut tentu aka nada yang merasa dikecewakan. 

 

Bila ia mendukung perkataan sang ibu, maka ia takut anak semata wayangnya itu kecewa, tapi jika ia membantah perkataan sang ibu, bahaya lebih besar lagi akan menghantamnya. Bisa saja ia akan dicap pemboikot oleh sang ibu dan yang lebih parah lagi ia tidak akan mendapatkan kunci kamar untuk tidur bersama dengan sang ibu.

 

Keadaan sang ayah bagai menghadapi buah simalakama, namun sang ayah tetap tidak menentukan sikapnya, sehingga pada situasi seperti itu sang ayah memilih bersikap abstain. 

 

“Aku akan tetap mengambil job itu, Bu, walau apa pun risikonya.”

 

Sikap keras kepala Aswal tampak terlihat. Memang sedari kecil dahulu, kegigihannya sudah terlihat. Jika ia menyakini sesuatu itu benar, maka ia akan terus memperjuangkannya sampai titik darah yang penghabisan. Termasuk dengan proyek yang akan ia kerjakan ini. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan