Agama dan Algoritma: Kebenaran dan Perhatian dalam Studi Islam
Faisal Riza.-Dok Pribadi-
Oleh Faisal Riza
Associate Prof. Dr. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Belum lama, menutup 2025, Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara mendapatkan izin operasional membuka Program Studi Islam untuk S2 dan S3. Segera setelah itu, sudah pula dirilis penerimaan mahasiswa baru untuk periode semester tahun ini. Bagaimana sebenarnya relevansi dan urgensi kehadiran program tersebut, terutama jika dikaitkan dengan kebutuhan ummat dan perubahan sosial yang pesat sedemikian rupa?
Orang-orang bijak masa lalu sering berkata, “Elok di mata belum tentu elok di hati, ramai di mulut belum tentu benar di adat.” Kearifan lokal seperti ini mengajarkan kehati-hatian dalam menilai kebenaran. Keramaian bukan ukuran nilai, dan keterlihatan bukan jaminan kebijaksanaan. Namun prinsip ini justru menghadapi tantangan paling keras di era digital, ketika agama hidup di ruang yang ditata oleh algoritma.
Di media sosial hari ini, Islam tampil bukan semata sebagai ajaran, melainkan sebagai konten. Ia diproduksi, dipilah, dan disebarluaskan berdasarkan logika perhatian (attention logic). Di sini, Algoritma tidak bertanya apakah suatu pesan benar secara keilmuan, melainkan apakah ia menarik, memicu emosi, dan membuat orang bertahan lebih lama di layar. Dalam konteks ini, Studi Islam menghadapi tantangan baru: bagaimana menjaga kebenaran ketika perhatian menjadi nilai utama.
//Syaikh Algoritma at-Tiktoky
Tarleton Gillespie dalam “The relevance of algorithms” (2014), menyebut algoritma sebagai pintu jaga baru ruang publik. Ia menentukan apa yang muncul di linimasa dan apa yang tenggelam. Dalam lanskap keislaman Indonesia, hal ini tampak jelas. Ceramah pendek berdurasi satu menit dengan judul provokatif sering jauh lebih populer dibandingkan kajian mendalam berdurasi satu jam. Potongan video yang emosional tentang surga, neraka, atau ancaman moral, lebih mudah viral dibandingkan diskusi etika sosial atau keadilan struktural.
Fenomena ini terlihat, misalnya, dalam maraknya klip ceramah yang dipotong dari konteksnya dan disebarkan ulang tanpa penjelasan metodologis. Ayat dan hadis tampil sebagai “senjata argumen instan”, bukan sebagai teks yang memerlukan tafsir. Dalam logika algoritma, yang penting bukan sanad atau konteks, melainkan potensi keterlibatan (engagement).