Belum Ada Obat Super Flu?
Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Octavianus -screnshot-
MUNCULNYA "Super Flu" di tengah masyarakat sempat memicu kekhawatiran akan adanya ancaman pandemi baru.
-------------
NAMUN pemerintah melalui Kementerian Kesehatan bergerak cepat meredam kepanikan tersebut. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu mencari vaksin khusus yang baru.
Sebab, vaksin influenza diyakini menjadi "obat mujarab" untuk menangkal fenomena sebaran Super Flue. Wamenkes menegaskan, vaksin tersebut masih sangat efektif digunakan.
Ia menjelaskan, Super Flu sebenarnya adalah virus Influenza Tipe A dengan subtipe H3N2. Virus ini memang memiliki genom khusus dan pertama kali diidentifikasi secara masif di Amerika Serikat. Sifat virus influenza yang terus mereplikasi dan bermutasi setiap tahun memang membuat penyebutannya terdengar mengkhawatirkan.
"Vaksinnya cukup vaksin influenza saja. Tidak perlu yang khusus, tetap gunakan vaksin influenza yang sudah tersedia," ujar Wamenkes.
Lebih lanjut, Benjamin memaparkan bahwa virus influenza secara alami mengalami perubahan setiap tahun. Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara rutin memperbarui komposisi vaksin flu untuk menyesuaikan dengan varian virus terbaru yang ditemukan di lapangan.
"Karena flu itu setiap tahun berubah dan mengalami replikasi, maka WHO selalu menemukan dan membuat formula vaksin baru setiap tahun. Jadi, kuncinya adalah rutin melakukan vaksinasi influenza tahunan agar proteksi tubuh tetap sesuai dengan jenis virus yang sedang beredar," tambahnya.
Tren Kasus Super Flu
Berdasarkan data pemeriksaan laboratorium terbaru, saat ini terdeteksi sebanyak 62 kasus H3N2 di Indonesia.
Meski Wamenkes mengakui adanya kemungkinan jumlah kasus di lapangan lebih banyak dari yang tercatat secara administratif, ia meminta masyarakat tetap tenang karena tren penularan flu secara umum justru sedang menurun.
Fenomena Super Flu ini, menurutnya, sangat dipengaruhi oleh siklus musiman. Di Indonesia, kasus flu biasanya mencapai puncak pada awal musim hujan, sekitar bulan Agustus hingga Oktober, dan mulai melandai saat memasuki bulan Desember hingga Januari.
"Dua minggu terakhir ini kasusnya sudah turun jauh. Biasanya memang memuncak di awal musim hujan, tapi sekarang menjelang Januari kondisinya sudah mulai reda. Kita bisa lihat sendiri orang yang terkena flu sudah berkurang jauh dibanding bulan-bulan sebelumnya," jelas Wamenkes.***