Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Psikologi Keluarga dalam Bimbingan Perkawinan

Syafaat-Dok Pribadi-

Oleh Syafaat 

ASN /Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

 

Ada satu fase ketika manusia mulai memahami bahwa cinta, seagung apa pun getarnya, tidak pernah cukup untuk menopang sebuah rumah tangga. Cinta hanyalah pintu, wangi yang mengajak dua jiwa masuk ke dalam ruang yang belum mereka ketahui luasnya. Namun setelah pintu tertutup, perjalanan mulai menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar getaran hati: ia menuntut ilmu yang menuntun, kesadaran yang menenteramkan, dan kedewasaan batin yang menjaga agar langkah tetap lurus di jalan yang diridhai Allah.

 

Perkawinan yang dirayakan dengan lampu gemerlap dan senyum para tamu sejatinya adalah ruang sujud dua manusia. Bukan hanya sujud kepada Tuhan yang menghalalkan pertemuan mereka, tetapi juga sujud kepada amanah yang mereka ikrarkan, merawat satu sama lain, menjaga cinta agar tidak layu, dan menumbuhkan kebaikan meski musim kehidupan silih berganti. Pada titik inilah psikologi keluarga hadir sebagai lentera, sebagai peta hati yang menjaga dua insan agar tidak karam oleh gelombang yang tak terlihat.

 

Bimbingan Perkawinan (Binwin) menawarkan lebih dari sekadar teori. Ia memperlakukan keluarga sebagai taman yang perlu ditata, disiram, dirawat, dan dijaga dari kemungkinan retak. Islam telah meletakkan fondasinya: kejujuran yang membeningkan, ketenangan yang meneduhkan, kedisiplinan yang menguatkan, serta penghormatan yang menegakkan martabat. Ilmu psikologi kemudian melengkapinya dengan pemahaman mendalam tentang kebutuhan manusia: kedekatan yang menghangatkan, rasa aman yang menenteramkan, pengakuan yang meneguhkan, dan ruang batin yang membuat seseorang merasa layak dicintai. Keduanya tidak bertentangan; keduanya ibarat dua sungai yang berbeda warna namun bermuara pada samudra yang sama: keluarga yang utuh, teduh, dan dirahmati Allah.

 

Robert Sternberg memperkenalkan segitiga cinta: kedekatan hati, gairah penggerak, dan komitmen penjaga. Hilangnya satu unsur membuat cinta berjalan pincang. Menariknya, Islam telah lebih dahulu mengenalnya dalam tiga pilar: mawaddah, rahmah, dan mitsaaqan ghalizhan. Dalam bahasa langit, kedekatan adalah cahaya yang meneduhkan, gairah adalah nyala yang menghangatkan, dan komitmen adalah minyak yang menjaga lampu kehidupan tetap menyala. Tanpa salah satu di antaranya, perjalanan rumah tangga menjadi gelap dan mudah digoyang angin.

 

Setiap pasangan memasuki pernikahan tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa harapan, tetapi juga masa lalu; membawa kebaikan, tetapi juga luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Mereka membawa pola komunikasi yang diwariskan dari rumah asal, pola yang kadang menjadi kekuatan, dan kadang menjadi sumber gesekan kecil yang pelan-pelan menggerogoti dasar hubungan. Karena itu, mengenali ‘dunia’ masing-masing adalah bagian dari ibadah, bagian dari penghormatan terhadap takdir yang mempertemukan dua manusia yang berbeda.

 

Dalam keluarga, ada tanda-tanda halus yang menunjukkan keretakan: kritik yang merendahkan, sinisme yang menyakitkan, sikap defensif yang memutus dialog, hingga diam yang dipakai sebagai hukuman. Jika dibiarkan, pola-pola ini akan menjadi alur luka yang tanpa suara meretakkan pondasi rumah. Psikologi keluarga mengajarkan rasio sederhana: 5 kebaikan untuk setiap 1 ketegangan. Ajaran Islam menyebutnya sebagai mu’asyarah bil ma’ruf, memperlakukan pasangan dengan kebaikan yang konsisten, walau kecil, namun terus tumbuh.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan