Ayah Pierce Brosnan
Ayah Pierce Brosnan.-screenshot-
Cerpen Marhaen W
Memosting foto keluarga di media sosial adalah hal wajar, apalagi saat ini dunia mampu menjangkau interaksi antarmanusia tanpa mereka harus bertemu. Orang dengan berbagai ciri wajah dan sifat membaur jadi satu. Bisa mengenal karakter seseorang tanpa menyentuh. Manusia bisa menemukan pasangannya meski tanpa pernah bertemu.
Dahulu jika ingin terkenal, Anda harus keliling dunia. Tapi sekarang, media sosial membuat orang dikenal tanpa beranjak dari tempat tidur. Dalam sekejab kita bisa menjadi populer melalui konten viral. Bumi tak lagi berbentuk bulat bola, melainkan kotak segi empat dan berlayar warna.
Banyak orang tertawa sendiri, padahal kata kakek zaman dulu orang seperti itu bisa dibilang gila. Sama halnya ayah. Tanpa harus ada acara reuni, bapak-bapak gaul seperti beliau bisa berkumpul lewat media sosial. Mulai dari teman SD, SMP, hingga kuliah, semua bisa ditemui lewat medsos.
Hanya saja minggu ini teman SMA ayah yang kebetulan seorang kades viral karena berdebat dengan emak-emak. Katanya program makanan bergizi pemerintah tidak enak dan ladang korupsi. Sembari terkekeh karena perdebatan teman ayah yang kades mirip presiden dan lawan politiknya. Ayah tak ambil pusing, sekali lagi beliau mengunggah foto kami berdua. Kadang saat makan, antar jemput sekolah, atau sekadar iseng mengunggah di cerita.
Ungkapan ke seluruh dunia lewat layar ajaib medsos. Cermin rasa sayang, “Oh ini lho anak perempuan kesayanganku.”
Semakin lama ayah membuka beranda, semakin lama ayah tersenyum sendiri. Beliau boleh merasa lebih muda dibanding rekannya yang anaknya usia dua puluh. Kita jarang menyadari waktu cepat berlalu, ayah menjumpai sohib sebangkunya saat SMA. Sementara saya anak sulung ayah masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, baru saja melepas dot dan meloncat dari ayunan.
Ketika ambil rapor, ayah bersanding dengan mama-mama muda dengan anak kecil menyertainya. Meski enam bulan sekali, usaha ayah untuk tampil lebih muda layak diapresiasi. Jika anda tahu topi baret yang sering dipakai seorang sutradara, hari itu ayah memakainya. Topi yang berasal dari tradisi orang-orang Eropa itu memberi kesan artistik, intlektual, dan kreatif pada ayah.