Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Satu Tahun Pendidikan Berdampak: Menenun Akses, Mutu, dan Kesetaraan

Aolia-Dok Pribadi-

Oleh Aolia 

Pemerhati Pendidikan Asal Cilacap

 

Selama puluhan tahun, potret pendidikan Indonesia di pelosok sering kali seragam: ruang kelas reyot, dinding mengelupas, kursi patah, hingga atap bocor setiap musim hujan. Di balik angka partisipasi sekolah yang terus meningkat, terselip realitas getir—masih ada lebih dari 22% sekolah dasar di wilayah 3T dalam kondisi rusak ringan hingga berat (BPS, 2024).

 

Fakta ini bukan sekadar menunjukkan keterbatasan infrastruktur, tetapi juga ketimpangan akses terhadap pengetahuan yang adil. Sementara sekolah-sekolah di kota tumbuh dengan laboratorium digital dan ruang baca modern, di banyak desa anak-anak masih belajar dengan papan tulis retak dan bangku kayu yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

 

Situasi ini menjelaskan mengapa program revitalisasi satuan pendidikan menjadi tonggak penting dalam upaya membangun pendidikan yang berdampak. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan pemulihan dan peningkatan mutu sarana belajar sebagai langkah awal menuju keadilan pendidikan.

 

Dengan anggaran Rp16,97 triliun, program Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak hanya berhasil mencapai target, tetapi melampaui ekspektasi: dari rencana 10.440 sekolah menjadi 15.523 satuan pendidikan penerima manfaat, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK hingga SLB.

 

Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen Gogot Suharwoto (2025) menyebutkan bahwa setelah evaluasi teknis dan administratif, “jumlah sasaran masih dapat dioptimalkan hingga lebih dari 16 ribu satuan pendidikan.” Ini menunjukkan bahwa ketika tata kelola dan pengawasan diperkuat, hasilnya bisa jauh melampaui rencana awal.

 

Dampak sosial ekonomi dari revitalisasi ini juga terasa nyata. Penerapan sistem swakelola berbasis masyarakat menjadikan proyek bukan semata pekerjaan kontraktual, tetapi gotong royong kolektif. Di Kudus, guru dan warga bahu-membahu membangun toilet ramah disabilitas di SMPN 1 Bae, sementara di Kota Batu, dana revitalisasi senilai Rp1,7 miliar digunakan untuk memperbaiki fasilitas belajar di 293 satuan pendidikan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan