Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Surat Harapan dari Masa Lalu

Nabilatul Azkiyah.-Dok Pribadi-

Nabilatul Azkiyah 

 

Palembang, 19 September 2025

Kepada Diriku di Masa Depan,

Apa kabar engkau di sana? Kuharap tubuhmu masih diberkahi kesehatan, hatimu masih dipenuhi kehangatan, dan langkahmu tetap tegap menapaki jalan yang panjang. Aku menulis surat ini seperti menyalakan lentera kecil di tengah gelap malam, semoga cahaya sederhana ini mampu menuntunmu saat engkau hampir kehilangan arah.

Diriku yang jauh di depan, aku tahu perjalananmu pasti penuh liku. Mungkin ada saat-saat ketika dunia seakan menutup semua pintu, membuatmu merasa terjebak dalam lorong tanpa cahaya. Namun, ingatlah bahwa setiap lorong gelap selalu berujung pada pintu keluar, dan setiap malam kelam pasti digantikan oleh fajar. Jangan biarkan kesulitan mengikis keyakinanmu. Jadilah seperti matahari yang tetap terbit, meski semalam penuh dengan badai dan guntur.

Aku ingin kau ingat: air mata yang jatuh bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hatimu masih hidup. Biarlah ia mengalir, karena dari sanalah lahir kekuatan baru. Lihatlah bunga teratai, yang justru tumbuh indah dari lumpur pekat. Begitu pula denganmu dari luka dan kecewa, semoga lahir ketabahan dan keindahan hidup.

Diriku, jangan pernah berhenti bermimpi. Mimpi adalah sayap yang akan membawamu terbang di atas keterbatasan. Jika suatu hari engkau lelah, berhentilah sejenak untuk beristirahat, tapi jangan pernah berhenti melangkah. Ingatlah, seekor burung pun harus mengepakkan sayapnya berkali-kali sebelum benar-benar bisa terbang tinggi.

Aku juga ingin mengingatkanmu tentang keluarga, mereka adalah akar yang menahanmu agar tidak tumbang. Jangan pernah lupa untuk berbakti kepada orang tua, karena dari doa merekalah engkau bisa berdiri di tempatmu kini. Balaslah cinta mereka dengan senyum, perhatian, dan kesuksesan. Jadikan hidupmu hadiah indah yang membuat mereka merasa bangga.

Kepada sahabat dan orang-orang di sekitarmu, tetaplah jadi pelita. Mungkin cahaya yang kau pancarkan tampak kecil, tapi bisa jadi cukup untuk menerangi kegelapan orang lain. Jadilah telaga yang jernih, tempat siapa pun bisa menemukan ketenangan. Sebab pada akhirnya, yang abadi bukanlah harta atau jabatan, melainkan jejak kebaikan yang kau tinggalkan.

Aku tahu di masa depan engkau mungkin akan menghadapi kegagalan. Jangan takut. Kegagalan bukan akhir, melainkan guru yang sedang mengajarkan arti keteguhan. Jika suatu hari engkau jatuh, bangkitlah. Tanah tempatmu terjatuh bisa menjadi pijakan yang lebih kokoh untuk langkah selanjutnya. Ingatlah pepatah: mutiara takkan bersinar indah tanpa gesekan pasir yang menyakitkan.

Harapanku untukmu sederhana namun dalam: semoga engkau selalu menjaga nurani agar tetap murni. Dunia boleh berubah menjadi hutan besi, keras dan tak ramah, tapi biarlah hatimu tetap lembut seperti embun pagi. Jangan biarkan kerasnya kehidupan mengubahmu menjadi batu. Lebih baik engkau rapuh tapi penuh cinta, daripada kokoh namun kehilangan rasa.

Aku titipkan mimpi-mimpi yang pernah kusulam dengan sabar: menjadi pribadi yang berguna, menggapai ilmu setinggi langit, membahagiakan orang-orang yang kaucintai, dan menebar kebaikan di mana pun engkau berada. Jangan biarkan mimpi itu terabaikan. Rawatlah ia, siramilah dengan doa, pupuklah dengan usaha, hingga suatu saat tumbuh menjadi kenyataan.

Dan bila engkau merasa sendirian, dengarkanlah gema surat ini. Aku percaya, dirimu lebih kuat dari apa pun yang mencoba meruntuhkanmu. Engkau adalah kapal yang diciptakan untuk berlayar di lautan luas, bukan untuk diam di dermaga. Ombak boleh mengguncang, angin boleh berhembus kencang, tapi yakinlah kapalmu mampu mencapai pelabuhan yang kau tuju.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan