Dekonstruksi Ibuisme oleh Penulis Perempuan Bangka Belitung
Windy Shelia Azhar-Dok Pribadi-
Oleh: Windy Shelia Azhar
Apa yang Anda pahami saat mendengar kata ibuisme? Ibuisme banyak dipahami sebagai sebuah propaganda yang ditumbuhkan pemerintahan orde baru (orba) untuk memberikan peran masif kepada perempuan Indonesia. Alih-alih perempuan diakui sebagai individu yang berdaya mandiri, perempuan diletakkan sebagai figur pendukung kedigdayaan suaminya. Perempuan diletakkan dalam peran domestik berikut fungsi lahiriahnya sebagai ibu tanpa perlu mendapat privilese pribadi layaknya cerita lelaki dalam menggapai kesuksesan. Maka kita mengenal perempuan-perempuan tanpa nama sendiri melainkan mengemban nama suaminya agar mendapat tempat di mata masyarakat pada masa lampau. Contoh, Bu Joko istri Pak Joko.
Dalam dunia kesusastraan Indonesia, geliat dekonstruksi paham akan ibuisme pada masa orba membawa kita ke nama-nama besar, seperti N.H. Dini, Mira W., dan Toety Herati. Mereka menerabas sekat ruang domestik tanpa kehilangan peran sebagai ibu. Melahirkan karya-karya yang lantang menskeptiskan peran terbatas perempuan tepat di mata penguasa dan masyarakat umumnya. Lalu, bagaimana dengan penulis perempuan asal Bangka Belitung? Meski tidak secara langsung mempertentangkannya di masa ‘80-an, nyatanya spirit keibuan yang berdaya telah lama digaungkan bahkan pada era Pujangga Baru.
Fatimah Hasan Delais atau yang juga dikenal dengan nama Hamidah merupakan seorang penulis perempuan Bangka Belitung era Pujangga Baru yang menggaungkan semangat emansipasi perempuan melalui karyanya. Hamidah menuliskan Kehilangan Mestika sebagai antitesis tradisi yang mengungkung kehidupan wanita dewasa pada masa lampau. Dalam roman tersebut, Muntok, sebuah kota di barat Pulau Bangka, diceritakan memiliki tradisi pingitan yang dilakukan terhadap seorang perempuan yang telah berumur 12 tahun. Perempuan Muntok tidak diperbolehkan keluar rumah selama belum ada lelaki yang bertandang ke rumah untuk melamar mereka. Hamidah yang juga menjadi nama karakter dalam roman ini menolak perannya sebagai perempuan dilemahkan. Ia mendirikan sekolah bersama teman-temannya untuk memberdayakan perempuan di kota kecilnya.
Dekonstruksi ibuisme oleh Hamidah memang terdengar tidak galak. Namun, hal-hal yang bagi perempuan masa kini adalah hal biasa sungguh sangat mahal harganya pada masa lalu. Memberikan kesempatan bagi perempuan untuk bisa baca dan tulis adalah tonggak awal pemberdayaan perempuan bagi Hamidah. Roman tersebut juga mempertentangkan adat istiadat masyarakat setempat kerap kali disalahartikan sebagai bagian dari agama sehingga perempuan yang menuntut haknya untuk bebas sebagai sesuatu yang kafir. Proses melogikakan pandangan yang meletakkan perempuan sebagai peran pasif oleh Hamidah ini patut diapresiasi.
Napas perjuangan perempuan dalam tulisan di Bangka Belitung mengalami kemandekan selama beberapa lamanya. Lalu, nama-nama, seperti Linda Christanty dan Ira Esmeralda, mewarnai sastra Indonesia sebagai penulis perempuan asal Bangka Belitung pada 2000-an. Linda Christanty adalah seorang penulis dan wartawan yang memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa melalui kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Kuda Terbang Maria Pinto.
Membaca cerpen “Kuda Terbang Mario Pinto” ini seolah-olah menyaksikan realisme keperempuanan yang lagi-lagi dilabeli sebagai sesuatu yang anomali dari sudut pandang lelaki. Terdapat dua tokoh perempuan dalam cerpen ini: Maria Pinto, seorang peri berkuda terbang dengan kekuatan sihir tua, serta perempuan muda yang ternyata pemimpin para teroris. Keduanya menanggung beban labeling oleh tokoh lelaki di dalam cerita. Namun, keduanya berhasil mengelabui lelaki tersebut bahkan tanpa senjata sebagai sesuatu yang amat maskulin. Pesona, sihir, dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi ditulis Linda sebagai sesuatu yang menjadikan dua tokoh perempuan ini berdaya di dalam cerita.