Kurikulum Merdeka: Metamorfosis Kepompong Pendidikan Indonesia
Irsyadinnas.-Dok Pribadi-
Oleh: Irsyadinnas
ASN Belitung Timur
BAYANGKAN sebuah kepompong yang sedang bersiap menjadi kupu-kupu. Di dalamnya terjadi proses metamorfosis yang luar biasa kompleks—sel-sel lama hancur, struktur baru terbentuk, dan kehidupan yang sama sekali berbeda sedang dikonstruksi. Inilah potret Kurikulum Merdeka Indonesia hari ini.
Dari fase 2023 yang masih seperti ulat gemuk penuh potensi, menuju 2025 yang berambisi terbang bebas dengan sayap deep learning. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah kita benar-benar siap untuk terbang, atau masih nyaman merangkak di ranting dan daun?
Implementasi Kurikulum Merdeka dimulai secara terbatas pada 2021 di Sekolah Penggerak yang berada di 111 kabupaten/kota, dan pada 2022 dimulai implementasi untuk Jalur Mandiri. Saat ini sudah hampir 70 persen satuan pendidikan di seluruh Indonesia telah menerapkan Kurikulum Merdeka—angka yang terdengar mengesankan di permukaan.
Namun, sebanyak 153.621 sekolah yang mendaftar implementasi Kurikulum Merdeka pada Tahun Ajaran 2023/2024 menghadapi realitas yang lebih kompleks daripada sekadar angka statistik. Faktanya, banyak sekolah yang terjebak dalam praktik lama dengan label baru—mengubah istilah "Kompetensi Dasar" menjadi "Capaian Pembelajaran" tanpa transformasi esensial dalam pendekatan pembelajaran.
Yang agaknya lebih mengkhawatirkan, ketika berbicara tentang deep learning dalam Kurikulum Merdeka 2025, kita berhadapan dengan kenyataan bahwa masih banyak anak Indonesia yang belum menguasai kompetensi minimum literasi dan numerasi.
Meskipun angka literasi SD/MI sederajat menunjukkan 61,53 persen murid memiliki kompetensi literasi di atas minimum pada 2023, naik 8,11 persen dari 2022 yang bertengger di angka 53,43 persen, masih ada sekitar 40% siswa yang belum mencapai kompetensi minimum. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang pendalaman pembelajaran ketika fondasi literasi dasar masih bermasalah?