Perkuat Kerjasama Dengan China, India Cueki Donald Trump
Narendra Modi-screnshot-
DI tengah tekanan sanksi perdagangan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, India menunjukkan sikap berani dengan mengabaikan ancaman tarif dan memperdalam hubungan dengan China.
--------------
LANGKAH ini ini mencakup kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke China menghadiri KTT Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Tianjin pada 31 Agustus 2025, serta kesepakatan untuk melanjutkan penerbangan langsung, perdagangan perbatasan, dan kerja sama teknologi.
Kebijakan ini menandai pergeseran strategis India menuju otonomi yang lebih besar dalam politik luar negeri, sekaligus menantang dominasi AS di kawasan Indo-Pasifik.
Diketahui, pada 7 Agustus 2025, Trump mengumumkan tarif 25% untuk semua barang impor India, diikuti dengan tambahan tarif 25% sebagai "hukuman" atas pembelian minyak Rusia oleh India, menjadikan total tarif 50%, yang mulai berlaku pada 27 Agustus 2025. Menurut laporan The New York Times dan Al Jazeera, langkah ini bertujuan untuk menekan Rusia agar menghentikan perang di Ukraina, tetapi India dianggap sebagai target utama karena impor minyaknya melonjak dari kurang dari 1% menjadi lebih dari 40% sejak 2022.
India mengecam tarif ini sebagai "tidak adil dan tidak beralasan," dengan Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa pembelian minyak Rusia dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar global, sebagaimana didorong oleh AS dan G7 melalui mekanisme batas harga.
Menteri Luar Negeri S. Jaishankar menegaskan bahwa India tidak akan membiarkan kebijakan energi nasionalnya didikte oleh tekanan asing. Bahkan ia pada 18 Agustus 2025 lalu, melakukan pembicaraan penting dengan Menlu Tiongkok Wang Yi di India.
Di tengah ketegangan dengan AS, India justru mempercepat normalisasi hubungan dengan China, yang sempat memburuk akibat bentrokan perbatasan mematikan di Lembah Galwan pada 2020. Pada Oktober 2024, Modi bertemu Presiden China Xi Jinping di KTT BRICS di Kazan, Rusia, menandai dimulainya pemulihan hubungan.
Kunjungan Menteri Luar Negeri China Wang Yi ke New Delhi pada Agustus 2025 menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan penerbangan langsung yang terhenti sejak 2020, membuka kembali perdagangan perbatasan di tiga titik Himalaya, dan melonggarkan pembatasan visa untuk wisatawan, pebisnis, dan jurnalis.
Pada KTT SCO di Tianjin, Modi dan Xi menegaskan komitmen untuk hubungan yang "stabil, dapat diprediksi, dan konstruktif." Xi menyebut kedua negara sebagai "mitra, bukan saingan," mengacu pada simbol naga (China) dan gajah (India) yang harus "menari bersama."
India juga mulai melonggarkan pembatasan investasi China, dengan think tank pemerintah mengusulkan pengurangan pengawasan terhadap perusahaan China di sektor teknologi kritis.
Perdagangan bilateral India-China, yang mencapai $127,7 miliar pada tahun fiskal terakhir, terus tumbuh meskipun ketegangan di masa lalu. India sangat bergantung pada bahan baku China untuk industri elektronik dan farmasi, dengan impor dari China melonjak dari $65 miliar pada 2020-2021 menjadi lebih dari $100 miliar.
Langkah India memperkuat hubungan dengan China dipandang sebagai bagian dari kebijakan "multi-alignment" atau otonomi strategis.
Pasalnya, India tidak akan memutuskan hubungan dengan AS, yang tetap menjadi mitra terpentingnya, tetapi harus "hidup berdampingan" dengan China sebagai tetangga terbesar.