SUNGAILIAT ATAU SUNGAILEAT (Bagian Sebelas)
Akhmad Elvian-screnshot-
Oleh: Dato’Akhmad Elvian, DPMP
Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung
Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
TONY Wen, seorang pemuda pejuang yang lahir di Kota Sungailiat, dan pada masa kekuasaan Jepang bekerja sebagai Jurubahasa di kantor Hua Kiao Jepang dan setelah Jepang menyerah Tony Wen pindah dan menetap di Solo membantu logistik tentara republik di Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Sudiro.
---------------
DI antara semua peran penting di atas, peran Tony yang paling vital bagi Republik Indonesia tak lain adalah sebagai Penyelundup Candu. Pada Tahun 1948, Republik Indonesia yang baru berdiri membutuhkan dana untuk membangun perwakilannya di luar negeri dan untuk mempersenjatai pasukan dalam melawan Belanda. Padahal kala itu, keuangan negara sulit karena perdagangan luar negeri Indonesia sedang diblokade Belanda. Sebagai solusinya, Menteri Keuangan A.A Maramis mengusulkan untuk menjual sekitar 2,5 ton Candu yang direbut dari Belanda. Dalam sidang kabinet, Perdana Menteri Mohammad Hatta menyetujui usul itu. Ia menunjuk sebuah tim yang terdiri dari Empat orang untuk menjalankan operasi ini, termasuk Tony (Theo & Lie, 2014:33). Tony Wen sempat ditahan di Singapura akibat aktivitas pembelian senjata yang dilakukannya untuk revolusi kemerdekaan Republik Indonesia akan tetapi kemudian berhasil bebas. Pada Tahun 1950 Tony Wen diangkat menjadi anggota Komite Olimpiade Indonesia dan pengurus PSSI. Selanjutnya peran Tony Wen berlanjut yaitu pada priode Tahun 1954-1956, Tony Wen, terpilih menjadi Anggota Konstituate mewakili Partai Nasional Indonesia (PNI) (Elvian, 2007:97). Tony Wen meninggal karena sakit pada Tanggal 30 Mei 1963 dan dimakamkan di Menteng Pulo Jakarta.
Kembali ke Pasukan Sekutu dan NICA yang mendarat di Mentok Pulau Bangka,adalah pasukan yang berasal dari Komando Asia Tenggara SEAC (South East Asia Command) dari Batalyon 3, Resimen 7 Stoottroepen. Pasukan berangkat dari Singapura dan mendarat di pelabuhan Mentok, Bangka Barat, pada pukul 16.00 WIB, Tanggal 11 Februari 1946. Tentara NICA Belanda dan tentara sekutu datang menggunakan 4 kapal dan kapal yang paling besar berbendera Inggris bernama MV. Rocksand. Pasukan NICA Belanda dipimpin oleh seorang pewira menengah bernama Berlein (Elvian, 2005:73). Pasukan sekutu dan NICA Belanda langsung menguasai Kota Mentok tanpa perlawanan. Pasukan Stoottroepen adalah pasukan gerak cepat yang dibekali dengan persenjataan lengkap, terdiri dari Tank/Panser, Truk, Jeep dan senjata api.
Pada Tanggal 13 Februari 1946, dengan menggunakan Sembilan unit Truk dan dengan kekuatan 500 orang tentara serta dengan peralatan tempur yang lengkap, pasukan sekutu dan NICA mulai bergerak dari Kota Mentok menuju ke Kota Pangkalpinang (menempuh jarak sekitar 138 km), untuk menduduki dan menguasai Kota Pangkalpinang sebagai pusat Keresidenan Bangka Belitung dan sebagai lokasi markas Komando Resimen TRI Bangka Belitung. Mengetahui rencana pasukan sekutu yang membonceng di dalamnya pasukan NICA Belanda, markas besar TRI Bangka Belitung di Pangkalpinang kemudian berkoordinasi dengan seluruh kesatuan TRI yang berada di pulau Bangka, termasuk Kompi TRI Sungailiat. Untuk menghadapi dan menghambat laju pasukan sekutu dan NICA Belanda, salah satu cara yang digunakan TRI adalah bersama dengan masyarakat menebang pohon-pohon di tepi jalan yang kemudian pohon tersebut dilintangkan di jalan antara Mentok menuju Pangkalpinang.
Kontak senjata pertama antara pasukan TRI Kompi Sungailiat dengan pasukan sekutu dan NICA terjadi di wilayah Puding Besar sekitar pukul 24.00 WIB dan pertempuran berlangsung hingga sampai dinihari Tanggal 14 Februari 1946. Dalam pertempuran di Puding Besar gugur beberapa anggota TRI, yaitu, Cik Ali, Raban, Nur, Salim dan Azli, semuanya berasal dari Kompi TRI Sungailiat ( dikenal dengan Pahlawan Lima). Pertempuran berikutnya antara pasukan TRI dan Sekutu yang di dalamnya membonceng tentara NICA terjadi di kilometer 16, yang terletak di ujung kampung Petaling, pada Tanggal 14 Februari 1946 sekitar puku 09.00 pagi. Gugur dalam pertempuran di kilometer 16 kampung Petaling, H.M. Noor, seorang pejuang yang berasal dari kampung Nibung Koba (Bangka Tengah).
Pasukan sukutu dan NICA Belanda kemudian terus melaju menuju ke Kota Pangkalpinang. Sekitar pukul 12.00 WIB, Tanggal 14 Februari 1946 di kilometer 12, Bukit Ma Andil kampung Petaling, laju pasukan sekutu dan NICA dihambat oleh pasukan TRI dari Kompi TRI Belinyu dan Pasukan Berani Mati yang dipimpin oleh Kapten Saman Idris. Pertempuran sengit Dua pihak pun terjadi di kawasan km 12 Petaling. Satu demi satu truk yang penuh berisi tentara NICA Belanda bermunculan, di antara tentaranya banyak yang dibalut perban dan tidak mengenakan baju lagi karena telah bekerja keras membuang rintangan-rintangan berupa pohon kayu yang ditebang oleh masyarakat dan keletihan karena harus memperbaiki jembatan kayu yang sengaja dihancurkan oleh pasukan TRI, di sepanjang jalan sebagai rintangan bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Pangkalpinang.
Tembak menembak antara Dua pasukan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB pada Tanggal 14 Februari 1946. Karena tidak mempunyai kekuatan yang seimbang terutama dari segi persenjataan dengan pasukan sekutu dan NICA, maka pasukan TRI memutuskan untuk mengundurkan diri dari daerah pertempuran. Belum sampai Sepuluh menit pertempuran selesai, tiba-tiba dari arah Kota Pangkalpinang datang sebuah mobil yang berisi 7 orang anggota TRI Pangkalpinang dipimpin oleh Kapten Munzir. Pasukan TRI yang baru datangpun dengan leluasa kemudian diserang oleh tentara sekutu dan NICA.
Pertempuran yang terjadi antara pasukan TRI dengan pasukan Sekutu dan NICA Belanda terjadi pada Tanggal 14 Februari 1946 di kampung Puding, kampung Petaling dan km 12 menuju Pangkalpinang, bertepatan dengan Tanggal 12 Rabiulawal penanggalan tahun hijriah. Pada tiap Tanggal 12 Rabiulawal, tradisi masyarakat Bangka merayakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan acara Nganggung ke masjid, langgar dan surau, serta melaksanakan hari raya di masing-masing rumah. Akhirnya tentara Belanda (NICA) berhasil melumpuhkan pasukan Kompi TRI Belinyu dan Pasukan Berani Mati serta Pasukan TRI Pangkalpinang. Pasukan TRI yang meninggal dalam pertempuran adalah Suardi Marsam, Abdul Somad Tholib, Adam Cholik, Salim Adok, Sulaiman Saimin, Abdul Majid Gambang, Karto Saleh, Kamsen, Ali Samid, Apip Adi, Saman Samin dan Jamher. Jumlah pasukan TRI yang gugur sebagai kusuma bangsa berjumlah 12 orang dan pertempuran terjadi di km 12, serta terjadi pada pukul 12.00, bertepatan dengan Tanggal 12 Rabiulawal, maka mereka yang gugur dikenang dengan nama Pahlawan 12. Pasukan TRI yang gugur berasal dari Kompi TRI Belinyu, Pasukan Berani Mati, TRI dari Aik Duren dan TRI dari Pangkalpinang.
Setelah pertempuran di Bukit Ma Andil, tentara Belanda langsung masuk ke Kota Pangkalpinang untuk melucuti pasukan TRI Bangka Belitung. Tanpa perlawanan Kota Pangkalpinang jatuh ke tangan sekutu dan tentara NICA Belanda sekitar pukul 16.00 WIB. Pasukan TRI dari Pangkalpinang kemudian menyingkir ke wilayah Koba dan Tanjung Berikat, sementara tentara sekutu kemudian berhasil menduduki Kota Sungailiat dan Kota Belinyu. Aksi pembersihan terus dilakukan oleh tentara sekutu dan NICA Belanda, terhadap TRI di seluruh wilayah pulau Bangka. Sisa-sisa pasukan TRI, yang membangun markas di Gunung Maras juga tidak luput dari penyerbuan. Pada Tanggal 12 April 1946 tentara sekutu dan NICA berhasil menangkap dan membawa Lima orang pemimpin TRI Bangka ke markas militernya di kampung Nibung (wilayah Kabupaten Bangka). Pada Tanggal 15 April 1946, Empat dari Lima pasukan TRI yang ditawan tersebut dihukum mati yaitu: Mayor Muhidin, Kapten H. Safiie, Kapten Yusuf Toyib, dan Kapten Suraiman Arif. Empat orang pasukan TRI yang dihukum mati pasukan NICA Belanda di kampung Nibung kemudian dikenal masyakat Bangka dengan sebutan Pahlawan Empat. Sementara itu seorang lagi dari anggota TRI yang ditangkap yaitu Letnan Admi Husin, dibawa pasukan NICA Belanda untuk menunjukkan lokasi persembunyian sisa-sisa pasukan TRI, akan tetapi kemudian Letnan Admi Husin bersama sisa pasukan TRI berhasil menyelamatkan diri.
Menelisik kondisi beberapa makam prajurit TRI yang terletak di pemakaman umum atau kuburan Kampung Keramat yang terletak di sisi Utara Jalan Depati Amir Pangkalpinang (dahulu jalan Mentok), tampaknya ada bekas kegiatan penghormatan yang dilakukan masyarakat dengan memperbaiki makam dan menghiasnya dengan menancapkan sebentuk Bambu Runcing dan Bendera Merah Putih di atas masing-masing makam. Pada lokasi perkuburan terdapat Delapan makam yang dihiasi dengan Bambu runcing dan Bendera Merah Putih. Kegiatan penghormatan dan penghiasan makam diperkirakan bersamaan dengan peringatan hari Pahlawan di bulan November.