Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Literasi dalam Bayang-Bayang Layar

Syahrezy Fajar-Dok Pribadi-

Oleh: Syahrezy Fajar

Penulis Tinggal di Koba

 

Di era ketika anak-anak lebih fasih menyebut nama-nama Youtuber daripada pengarang cerita anak, kita perlu bertanya dengan serius, ke mana arah masa depan literasi bangsa ini? Di banyak rumah, layar menjadi sahabat setia anak-anak. Mereka mengenal dunia bukan lagi dari halaman buku, melainkan dari kilatan video pendek, animasi berwarna, dan konten algoritma yang terus menggoda untuk digulirkan.

Fenomena ini menunjukkan sebuah pergeseran besar. Kita sedang menyaksikan lahirnya generasi yang tumbuh dengan pola konsumsi informasi yang serba visual, cepat, dan instan. Mereka bukan generasi yang tidak bisa membaca, melainkan generasi yang mulai menjauh dari teks. Inilah yang mungkin layak disebut sebagai generasi pascateks, yakni anak-anak yang secara teknis melek huruf, namun secara budaya dan kebiasaan, mulai kehilangan kedekatannya dengan dunia teks dan bacaan.

Pergeseran kebiasaan ini bukan tanpa dampak. Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa skor literasi membaca pelajar Indonesia berada di posisi bawah, yakni peringkat ke-70 dari 81 negara. Padahal kemampuan literasi menjadi fondasi bagi pembelajaran sepanjang hayat dan kunci untuk membangun masyarakat yang berpikir kritis dan produktif.

Ironisnya, akses terhadap teknologi digital di kalangan anak justru meningkat tajam. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024, lebih dari 69% anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah sudah terhubung dengan internet, dan mayoritas dari mereka menghabiskan waktu lebih dari tiga jam sehari untuk menonton konten hiburan di aplikasi seperti Youtube, TikTok, dan Instagram.

Kondisi ini menciptakan ketimpangan yang nyata. Di satu sisi, kita mendorong anak-anak untuk meningkatkan literasi baca tulis; di sisi lain, mereka justru dibanjiri oleh gelombang tontonan yang bersifat pasif, visual, dan sering kali miskin nilai edukatif. Budaya membaca pelan dan merenung kian tergeser oleh budaya menonton cepat dan melupakan.

Tidak bisa dimungkiri bahwa video dan visual memang lebih menarik bagi anak-anak. Layar menawarkan hiburan tanpa usaha kognitif yang besar. Sementara membaca, meski menyenangkan, bagi sebagian orang menuntut konsentrasi, ketekunan, dan daya imajinasi yang tinggi. Inilah yang membuat buku kalah saing di mata anak-anak zaman sekarang.

Tontonan di layar juga menciptakan efek overstimulasi. Warna mencolok, suara keras, dan alur cepat membuat otak anak terbiasa dengan kepuasan instan. Ketika kemudian dihadapkan pada buku cerita yang tenang dan datar, otak mereka cenderung menolak, merasa bosan, dan tak tertarik. Di titik inilah tantangan literasi muncul, bukan karena anak tidak mampu membaca, tapi karena mereka kehilangan kesabaran dan kenikmatan dalam membaca.

Apakah ini berarti kita harus melarang anak menonton? Tentu tidak. Dunia digital adalah bagian dari realitas masa kini. Namun, kita perlu menyusun ulang strategi pendidikan dan pola asuh agar literasi tidak tersingkir dari kehidupan anak-anak.

Pertama, orang tua harus menjadi kurator konten digital. Mereka bukan hanya bertugas membatasi waktu layar, tapi juga mengarahkan jenis tontonan yang bernilai edukatif. Banyak konten anak yang sejatinya dapat memicu minat baca, seperti animasi yang diadaptasi dari buku cerita, dokumenter anak, atau kanal edukasi kreatif.

Kedua, pendidikan literasi harus beradaptasi dengan realitas digital. Kurikulum sekolah perlu memasukkan literasi digital dan literasi media sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Anak-anak harus dibekali kemampuan untuk menyaring informasi, memahami konteks, dan membedakan fakta dari opini.

Ketiga, kreator konten dan industri media perlu diberi tantangan baru. Dapatkah mereka membuat tayangan yang menghibur sekaligus memperkuat budaya literasi? Misalnya, serial animasi berbasis cerita rakyat, kanal Youtube yang membacakan cerita interaktif, atau konten yang mendorong anak menulis dan bercerita.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan