Baca Koran babelpos Online - Babelpos

SUNGAILIAT ATAU SUNGAILEAT (Bagian Delapan)

Akhmad Elvian-screnshot-

Oleh: Dato’Akhmad Elvian, DPMP

Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung

Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

   

SELANJUTNYA, berdasarkan Regeeringalmanak voor Nederlandsch-Indie, 1893 terdapat beberapa jabatan di Afdeeling Soengai Leat (Soengai Liat); 

-----------

UNTUK afdeeling dijabat oleh J.W. Tamon, 11 Maret 1891, sedangkan jabatan Demang S Soengai Leat dijabat oleh Demang Mas Atmo Wikromo, 30 Desember 1886 dan untuk pemimpin orang Cina atau Kapitan Titulair dijabat oleh Bong Yap Siep, 7 Juli 1900. Sementara itu untuk Afdeeling Marawang (Batoe Roesa), jabatan afdeeling dijabat oleh C.H. Hall, 17 Agustus 1801, dan Demang Marawang dijabat oleh Demang Mohammad Hidajat, 10 Maret 1881 serta untuk pemimpin orang Cina Kapitan Titulair di Marawang dijabat oleh Bong Kong Hian, 8 September 1890. 

Setelah perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir, hampir Lima   puluh tahun kemudian, atau pada penghujung abad ke-19 Masehi tepatnya pada Tahun 1899, terjadi lagi perlawanan rakyat Bangka yang kali ini dipimpin oleh orang Tionghoa Bangka. Perjuangan Orang Tionghoa Bangka cukup menyita perhatian Pemerintah Hindia Belanda dan terjadi pada bulan Maret 1899 Masehi. Seorang pejuang Tionghoa bernama Liu Ngie melakukan pemberontakan terhadap Pemerintah Belanda, awalnya pemberontakan di Distrik Kubak (Koba) dan kemudian pemberontakan menjalar dan meluas ke beberapa distrik lainnya di Pulau Bangka, termasuk Distrik Sungailiat, Distrik Merawang dan Distrik Pangkalpinang. Pemberontakan Depati Amir dan pemberontakan Liu Ngie terhadap Pemerintah Hindia Belanda menambah deretan panjang bagaimana bersatunya bumiputera Bangka dengan pendatang dalam hal ini dengan orang Tionghoa, terutama dengan Peranakan Tionghoa Bangka. Walaupun pemberontak bergerak melewati kampung-kampung di Pulau Bangka, tetapi tidak membahayakan penduduk setempat (dikatakan mereka membayar apa yang mereka ambil). Tidak terjadi konflik antar etnis antara pemberontak Tionghoa dengan orang bumiputera penduduk kampung, tampaknya penjajah Belanda dijadikan sebagai musuh bersama Orang Bumiputera Bangka dan Orang Tionghoa.

Dalam catatan Dr. S.A. Buddingh,  Neerlands-Oost-Indie Reizen Over Java, Madura, Makasser, …., Banka, Palembang, Riouw, Benkoelen, Sumatra’s Westkust, Floris, Timor, Rotty, Borneo’s West-Kust en Borneo’s Zuid-en Oostkust ; gedaan gedurende het tijduak nan 1852-1857, halaman 68, dikatakan: Het distrikt Koba telt vele Tinmijnen ,doch die niet zoo produktief zijn als andere Bankasche mijnen. Het land is overdekt met uitgestrekte wouden , de woonplaats van ontelbare wilde varkens. Penjelasan dari  Buddingh tentang kondisi distrik Koba dapat dijadikan sebagai alasan penyebab perlawanan dan pemberontakan Liu Ngie di Koba.  Distrik Koba memiliki banyak  tambang Timah, akan tetapi tambang-tambang Timah tersebut tidak seproduktif tambang Timah di bagian lain Pulau Banka, Distrik ini ditutupi hutan yang luas (Orang Tionghoa Bangka menyebut Koba dengan Komuk), dengan habitat Babi hutan yang tak terhitung jumlahnya. Penjelasan Budingh ini dilengkapi dengan penjelasan Heidhues yang menyatakan, bahwa Distrik Koba memiliki Sembilan tambang yang hampir tidak menguntungkan, tetapi Kepala Parit atau Parithew di sana mengambil keuntungan yang sangat berlebihan dari kuli, dengan menetapkan harga yang sangat tinggi di toko-toko mereka dan menerapkan sanksi berat dalam bentuk uang atau tambahan kerja atas pelanggaran kecil yang dilakukan kuli. Dengan membiarkan kuli terlilit hutang, membuat tidak mungkin untuk kuli-kuli meninggalkan pertambangan, apalagi kembali ke Tiongkok (Heidhues, 2008:144-145). Puncaknya, penderitaan para kuli tambang Timah dari Cina di Distrik Koba, adalah terjadi pemberontakan yang dilakukan penambang Timah dari Cina dipimpin oleh seorang pelarian kuli tambang dari Mentok bernama Liu Ngie. Pemberontakan kemudian meluas pada bulan Oktober 1899, di distrik Merawang dan Distrik Sungailiat dengan sekitar 200-300 pengikutnya, pemberontakan Liu Ngie kemudian dilanjutkan di Distrik Pangkalpinang. 

Liu Ngie dan saudaranya kemudian tertangkap di Distrik Merawang pada Bulan Februari 1900, kemudian diikuti dengan penangkapan pengikut-pengikutnya pada Bulan November 1899. Sewaktu Liu Ngie tertangkap dan dibawa ke rumah Kepala Distrik Merawang, disebutkan bahwa halaman rumah tersebut penuh dengan lautan manusia yang ingin melihat sosok Liu Ngie. Sebelum dieksekusi, Liu Ngie ditahan di Penjara Mentok (Byzendergevangenis) yang merupakan rumah penjara di Residentie Banka en Onderhorigheden dengan tingkat penjagaan yang ketat. Rumah Penjara Mentok juga menerapkan aturan penahanan bagi pelaku kejahatan dengan diikat menggunakan rantai termasuk dengan rantai yang diberikan beban pemberat yang dipakaikan kepada para tahanan di Kaki, Tangan dan Leher. Pelaku kejahatan dan kriminal yang dirantai adalah narapidana yang dianggap mengancam stabilitas dan keamanan di Pulau Bangka agar tidak melarikan diri termasuk sosok Liu Ngie dan Saudaranya. Liu Ngie kemudian dihukum  gantung di depan umum di Pasar Mentok pada Tanggal 11 September 1900, dengan tujuan bahwa Pemerintah Belanda ingin memunculkan efek jera bagi masyarakat agar tidak melakukan perlawanan atau pemberontakan kepada Pemerintah Hindia Belanda khususnya di Keresidenan Bangka. 

Pemberontakan di Distrik Koba/Kubak dan Distrik Merawang, Distrik Sungailiat dan Distrik Pangkalpinang oleh Liu Ngie dan pekerja tambang dari Cina merupakan kelanjutan dari perlawanan rakyat Bangka melawan Pemerintah Hindia Belanda. Pemberontakan terinspirasi dari perlawanan yang telah dilakukan oleh Depati Bahrin dan Depati Amir.  Mungkin inilah sebabnya Residen Belanda, J.C. Maan setelah beberapa puluh tahun pemberontakan, dalam  laporannya vervolg Memorie van Overgave, Residen van Bangka en Onderhoorigheden van 8 Juni 1934-1 Juli 1938, ARA-DH, hal.7, mengatakan: In 1851 werd Amir door militaire patrouilles opgejaagd en gevangen genomen, dit is de laatste maal gewesest dat mat militairen tegen de Bangkaneezen  is opgetreden. Maksudnya: Pada Tahun 1851, Amir dikejar oleh patroli militer dan ditangkap, ini adalah terakhir kalinya tentara telah mengambil tindakan terhadap orang Bangka (Elvian, 2019:228). Maksud dari J.C Maan, mengatakan, bahwa pemberontakan Amir adalah terakhir kalinya tentara (militer Hindia Belanda) mengambil tindakan terhadap Orang Bangka, karena setelah pemberontakan Depati Amir, pemberontakan di Pulau Bangka dilakukan oleh orang Cina, para pekerja tambang Timah di Pulau Bangka yang dipimpin oleh Liu Ngie. Untuk mengatasi perlawanan Liu Ngie beserta pekerja tambang Timah pengikutnya, Pemerintah Hindia Belanda harus mendatangkan pasukan militer dari Jawa atau dikenal dengan tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger).

Pada tanggal 3 September 1913 Pangkalpinang ditetapkan sebagai ibukota Keresidenan Bangka dan Pulau Pulau yang melingkupinya (Residentie Banka en Onderhorigheden) menggantikan Kota Mentok. Kota Pangkalpinang menjadi Pusat Pemerintahan Keresidenan dan Kota Mentok menjadi Pusat Penambangan Timah dengan berdirinya Perusahaan Penambangan Timah Belanda BankaTinWinning (BTW). Pangkalpinang sebagai Ibukota membawahkan 10 distrik yaitu: Distrik Muntok dengan Underdistrik Muntok, Ampang, Pelangas Kadiala; Distrik Djeboes dengan Underdistrik Djeboes, Telang, Klabat; Distrik Belinjoe dengan underdistrik Belinjoe, Pandji Sekak; Distrik Sungailijat dengan uderdistrik Soengailijat, Maras, Njalau; Distrik Merawang dengan underdistrik Merawang, Djeroek, Groenggang; Distrik Sungaiselan dengan underdistrik Soengaiselan, Ajer Anget, Maleh, Pering, Permisan; Distrik Pangkalpinang dengan underdistrik  Pangkalpinang, Mendo Barat, Boekit, Penagan; Distrik Koba dengan underdistrik Koba, dan Ajer Nangka Barat; Distrik Toboali dengan underdistrik Toboali, Goesong, Oelim; dan Distrik Kepulauan Lepar dengan underdistrik Lepar Eilanden dan, Tandjoeng Laboe. (Bersambung/***)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan