Refleksi Gagasan dan Kepemimpinan HAS. Hanandjoeddin untuk Pendidikan
--
Mencari Mata Air Pendidikan di Tengah Gurun Kurikulum
Oleh Heriyanto, S.H.I.
Guru SMP Negeri 4 Gantung Belitung Timur
DI TENGAH hiruk-pikuk narasi pembangunan nasional yang kerap terpusat di Jakarta, nama HAS. Hanandjoeddin mungkin jarang disebut dalam wacana pendidikan masa kini. Padahal, tokoh asal Belitung ini menyimpan pelajaran penting tentang gagasan, integritas, dan kepemimpinan lokal yang relevan hingga hari ini.
Bukan hanya sebagai tokoh militer, tetapi sebagai figur yang mewakili semangat kemandirian, keberanian berpikir berbeda, dan keteguhan menjaga nilai-nilai luhur bangsa di tengah tekanan zaman. Dalam konteks pendidikan Indonesia yang sedang mencari arah di era disrupsi digital, warisan semangat HAS. Hanandjoeddin layak dihidupkan kembali.
Ia bukan sekadar nama bandara atau jalan di Pulau Belitung, melainkan simbol pemimpin lokal yang berpikir untuk kepentingan nasional. Saat ini, Indonesia tidak hanya butuh reformasi kurikulum, tetapi juga reformasi nilai dalam pendidikan. Dan nilai-nilai yang diwariskan tokoh seperti Hanandjoeddin sangat relevan untuk membangun pendidikan yang berkarakter, adaptif, dan berbasis lokalitas.
//Lokalitas yang Menjadi Nasional
Lokalitas yang Menjadi Nasional Letnan Kolonel (Purn.) H. Abdul Samad Hanandjoeddin atau HAS. Hanandjoeddin lahir di Tanjung Pandan, Belitung, dan tercatat sebagai salah satu tokoh militer yang gigih mempertahankan kedaulatan Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera bagian timur. Namun keistimewaan Hanandjoeddin bukan semata pada jasanya di medan tempur, tetapi pada komitmennya sebagai pemimpin lokal yang berpikir jauh melampaui batas administratif wilayah.
Ketika menjabat sebagai Bupati Belitung tahun 1967–1979, ia tidak hanya membangun secara fisik, tetapi juga meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat yang mandiri, religius, dan berbudaya. Ia percaya bahwa pembangunan bukan sekadar membangun jalan dan gedung, tapi membangun manusia, dan pembangunan manusia tidak bisa lepas dari pendidikan.