Baca Koran babelpos Online - Babelpos

SUNGAILIAT ATAU SUNGAILEAT (Bagian Enam)

Akhmad Elvian-screnshot-

Oleh: Dato’Akhmad Elvian, DPMP

Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung

Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

 

DALAM peta yang cukup detail termasuk pembagian Sembilan Distrik di Keresidenan Bangka dan pulau pulau yang melingkupinya dengan batas batas wilayah distriknya yang digambarkan dengan garis besar berwarna biru.

-------------

LETNAN dua L. Ullman mencatat sekitar 18 kampung di Distrik Merawang sebagai pecahan dari Distrik Sungailiat yaitu kampung Batoe Roessak, Djoerong, Tjingal, Kambanit, Kimak, Sempang, Reding Pandjang, Marawang, Poeding, Laboe, Nibong, Tanabawa, Sain, Kotto Waringin, Kloembi, Boejan, Moendar dan Payakang. Berdasarkan toponimi kampung kampung di atas memiliki toponimi yang sama dengan toponimi kampung kampung yang kita kenal sekarang, sementara itu terdapat beberapa nama kampung atau toponimi yang tidak dijumpai lagi sekarang seperti Kampung Kambanit, Moendar dan Payakang. 

Selanjutnya berdasarkan Kaart van het Eiland Banka (cartographic material) volgens de topographische opneming in de jaaren 1852 tot 1855 karya Letnan dua L. Ullman, pada Distrik Soengi Leat terdapat kampung kampung yaitu Soengi Leat, Mangkoeloel, Tjet, Kajoe Arang, Ayer Segambier, Ayer Lajang, Pankal Lajang, Boekit, Neoret, Mabat, Mangah, Bakem, Ailekka Dalil, Tiangtara, Nienang, Njalauw, Poeding, Penjamoen, Doeren, Parit Padang, dan Rebo. Jika dipelajari nama nama kampung di atas, terdapat toponimi nama kampung yang sama dengan nama kampung sekarang dan terdapat beberapa nama kampung yang hilang seperti nama Kampung Mangkoeloel, Neoret, Mangah, Aiklekka Dalil yang menjadi Dalil saja, dan kampung Njalauw. Kebijakan Pembangunan jalan dan pemindahan kampung oleh Pemerintah Hindia Belanda juga membuka dan mempermudah akses jalan ke daerah daerah yang berada di Distrik Merawang dan Distrik Sungailiat tempat lokasi pertambangan. Pemerintah Kolonial Belanda juga membangun beberapa jembatan dan membuka jalan setapak, baik di daerah pedalaman dari sejumlah kampung di Distrik Sungailiat dan Distrik Merawang, untuk memudahkan kontrol pasukan dan Opas Belanda agar perlawanan rakyat dapat ditekan sedini mungkin. 

Dengan kebijakan pembangunan jalan jalan baru dan pemindahan pemukiman penduduk menjadikan keadaan berbalik melawan Depati Amir ketika Belanda memaksa penduduk Bangka yang berpindah-pindah yang hidup di ladang mereka karena tergantung pada pengolahan hasil hutan, untuk menempati kampung-kampung padat di sepanjang jalan utama atau jalan raya. Kampung-kampung baru (new villages) ini strategi Belanda sangat menyerupai Briggs Plan (rencana Briggs) untuk mengatasi situasi sewaktu keadaan darurat di Malaya seabad kemudian (Heidhues, 1992:92). Selanjutnya berdasarkan Kolonial Verslaag Residen Bangka Tahun 1850 dan 1851, untuk memudahkan transportasi melalui sungai dan laut telah dilakukan pengukuran terhadap Sungai Layang yang bermuara di Teluk Kelabat oleh Letnan Laut Uhlenbeck dan diketahui kemudian, bahwa sungai ini (Sungai Layang) dapat dilayari oleh kapal kapal kecil sampai jauh masuk ke pelosok wilayah pedalaman Pulau Bangka. Penelitian juga memungkinkan untuk membangun kanal melalui Sungai Jering, Sungai Semubur, Sungai Layang dan Sungai Merawang agar memudahkan transportasi melalui jalur air di pedalaman dari Selatan menuju Barat Laut dan menuju Pantai Timur Laut Pulau Bangka.  

Pembentukan kampung-kampung bentukan Kolonial Belanda terus berkembang dan pada Tahun 1896 tercatat sekitar 2.000 rumah terbangun dan terkonsentrasi di kiri dan kanan jalan pada perkampungan-perkampungan yang tersebar di Pulau Bangka. Perkampungan dan jalan bentukan Belanda merupakan prototipe kampung-kampung dan jalan-jalan yang ada di Pulau Bangka hingga saat ini. Kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda setelah perang Bangka menyebabkan perubahan yang mendasar bagi penduduk Pulau Bangka yaitu terjadinya proses interaksi, sosialisasi, asimilasi dan akulturasi antar etnic group yang ada dan kemudian melebur dalam satu identitas (smelt port society) sehingga membentuk Orang Bangka seperti yang kita kenal sekarang. Pemerintah Kolonial Belanda merasa berhasil dalam penataan Pulau Bangka setelah perang Bangka. Residen Bangka dalam laporannya pada Tahun 1853 dengan bangga menyebutkan Pulau Bangka sebagai salah satu keresidenan yang paling teratur (regelmatig) di koloni Belanda.

Menelisik catatan Horsfield maupun Franz Epp, tentang tambang tambang Timah yang dibuka dan dikerjakan oleh pekerja tambang dari Cina di Distrik Sungailiat dan Merawang dan keterangan dari Franz Epp yang menyatakan Merawang adalah kampung Cina yang indah, kemudian orang Cina di samping banyak tinggal di daerah Layang juga banyak tinggal dan bermukim di Kampung Rebo Distrik Sungailiat, sangat terbukti jika dipelajari dalam peta yang dibuat sekitar Tahun 1932: Res. Bangka en Onderh. Digital Collections, Leiden University Libraries  KK 083-04-01/085-04-10_075-05978–074 dan KK 083-04-01/085-04-10_079- 05978–078, bahwa sampai sekarang masih sangat banyak terdapat Toponimi kampung kecil (native village) di Distrik Sungailiat dan Merawang yang menggunakan nama dalam dialek Hakka seperti; Tonghin, Parit Paknginjoen, Hasitfoen, Songtjhitfoen, Tjoihin, Kongpoi, Lokioefoen, Sinkioefoen, Tethap, Lipak, Sinli, Songhin, Tetlie, Siehin dan Njanhin. Nama nama kampung dalam dialek Hakka sangat familier penyebutannya oleh masyarakat Bangka saat ini, baik oleh Orang Tionghoa Bangka sendiri maupun oleh orang Melayu Bangka

Berdasarkan catatan Franz Epp dalam bukunya Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden, Heidelberg, J.C.B. Mohr, 1852. yang banyak menjadi rujukan peneliti peneliti Eropa berikutnya, bahwa bila dianalisa jumlah orang Cina yang tinggal di Distrik Sungailiat dan Merawang sekitar 13,91 persen dari keseluruhan penduduk 8.556 jiwa. Penulis merasa beruntung dapat menemukan Satu bukti yang cukup tua tentang keberadaan orang Cina di Kampung Tjoihin Sungailiat yaitu ditemukannya struktur makam tokoh Oen Chi Phin yang diperkirakan datang ke Distrik Sungailiat sekitar Tahun 1725-1733 Masehi. Makam Oen Chi Phin berada pada posisi Astronomis S 01°56'451''-E 106°07'811''. Struktur makam terletak di Kampung Tjoihin, Satu kampung kecil sekitar beberapa ratus meter dari jalan raya menuju kawasan Batu Ampar melalui Kampung Kenanga Sungailiat. Keberadaan makam tua ini menunjukkan awal keberadaan orang Tionghoa di pesisir Timur Pulau Bangka khususnya di Distrik SungaiLiat/Leat (Liatkong) untuk mengeksplorasi Timah. Keturunan atau generasi selanjutnya dari Oen Chi Phin yaitu Oen Men Chiu yang makamnya berada di Kampung Besi (Thiatfu) Pangkalpinang, terletak sekitar 50 meter dari Kelenteng Fuk Tet Che di Simpang Semabung Pangkalpinang dan selanjutnya keluarga dari marga Oen umumnya dimakamkan di Tjhung Hua Kung Mu Yen pemakaman Sentosa Pangkalpinang dan ada juga yang dimakamkan di sekitar Landbouw Pangkalpinang. 

Keberadaan orang Cina di Distrik Sungailiat dan Merawang dapat juga dipelajari dari Peta Bahasa atau Schets-Taalkaart, van de Residentie Bangka, Samengesteld door K.F. Holle 1889, atau berdasarkan peta bahasa di Residen Bangka Tahun 1889 yang disusun oleh   K.F. Holle, seorang penasehat kehormatan penduduk pribumi, dengan data yang diperoleh dari pejabat administrasi pemerintahan dalam negeri, bekerjasama dengan Biro Topografi di Batavia, dinyatakan dalam peta dengan bentuk warna merah jambu, bahwa bahasa yang digunakan di kawasan kampung Rebo adalah bahasa Cina (Chineesch) yang bila diinterpretasikan, bahwa Kampung Rebo di Distrik Sungailiat mayoritas penduduknya adalah orang Tionghoa, karena bahasa menunjukkan bangsa. Berdasarkan Schets-Taalkaart, van de Residentie Bangka, Samengesteld door K.F. Holle 1889, diketahui bahwa terdapat Enam dialek bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat di 10 district dengan 31 underdistrict dalam wilayah Keresidenan Bangka yaitu Daratsche dialecten (dialek orang Darat), Maporeesch dialecten (dialek Mapor), Chineesch dialecten (dialek Cina), Rijau-Lingga dialecten (dialek Riau-Lingga), Bangka Maleisch dialecten (dialek Melayu Bangka), dan Sekaahsch dialecten (dialek Sekak).(Bersambung/***)

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan