Sikok Bagi Limo: Parodi Politik di Tanah Serumpun Sebalai (1)
Fadilah-Dok Pribadi-
Oleh Fadhilah Imam
Institut Pahlawan 12 Sungailiat Bangka
TULISAN ini di buat dengan judul sikok bagi limo yang merupakan parodi lirik dari sebuah lagu dengan Bahasa khas kota Palembang, sikok menjadi duo. Sikok bagi limo adalah frasa yang belakangan santer terdengar di pelosok Kabupaten Bangka, bukan sebagai judul lagu dangdut remix terbaru, tapi sebagai parodi situasi politik yang sedang panas-panasnya.
Frasa ini, yang berakar dari dialek khas Palembang, awalnya mengandung makna sederhana, satu dibagi lima. Tapi mari kita telusuri lebih jauh, bagaimana jika yang dibagi kue bukan sekadar kue, melainkan kursi kepala daerah? Dapat kita bayangkan jika satu kue lapis legit dibagi menjadi lima, akan ada perasaan yang bercampur aduk, terpaksa, kurang nyaman , kurang puas terhadap kenyamanan atau merasa senasib sepenanggungan.
Lalu bagaimana dengan kontestasi pemilu ulang di kabupaten yang diikuti lima pasang kontestan yaitu Ferry Insani–Syahbudin, Naziarto-Usnen, Andi Kusuma–Budiyono, Rusli Jasli-Aksan Visyawan, dan Rato Rusdiyanto-Ramadian, maka jadilah sikok bagi limo .
Jika melihat catatan yang pernah ada dalam pemilukada di Kabupaten Bangka, mungkin ini adalah pemilukada yang baru pertama terjadi akibat dari implikasi dari sistem pemilukada kita, yang di hasilkan dari pemilu serentak dengan kemenangan kotak kosong. Fenomena kotak kosong dalam pemilu serentak bukan sekadar kecelakaan demokrasi, tetapi menjadi indikator adanya ketidakseimbangan antara sistem pencalonan dan representasi politik.
Seperti diungkapkan oleh Marcus Mietzner (2013), sistem demokrasi Indonesia pasca reformasi masih menyisakan banyak lubang kelembagaan, termasuk soal dominasi partai politik besar dan pengaturan ambang batas pencalonan. Ambang batas pencalonan atau presidential threshold yang diatur dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 mensyaratkan partai atau gabungan partai harus memiliki minimal 20% kursi di DPR atau 25% suara sah nasional untuk dapat mengusung capres/cawapres.
Dalam konteks lokal, meski istilah threshold ini tak secara langsung diterapkan, semangatnya tetap terasa partai harus berkoalisi, membangun dukungan, dan tak jarang terpaksa memasangkan kandidat demi "cukup syarat". Hal ini sering membuat publik merasa bahwa pasangan calon dibentuk bukan atas dasar kualitas atau visi, tapi semata strategi numerik. Maka tak heran jika ada ungkapan sinis dari warga, "Yang penting duitnya cocok di kertas, soal cocok memimpin, belakangan saja."