Strategi dan Potensi Affiliate Marketing di Era Digitalisasi
--
Oleh Tri Julia Hani Sofa
Mahasiswa Institut Sains dan Bisnis Atma Luhur
Magang di Kantor Perwakilan Ombudsman Bangka Belitung
Affiliate marketing adalah salah satu metode bisnis yang sangat mudah dilakukan dengan bermodal smartphone. Dalam sistem ini kamu bisa memperoleh penghasilan dengan cara mempromosikan produk atau layanan milik orang lain melalui media sosial, blog atau platform digital lainnya.
Model bisnis ini bisa menjadi salah satu solusi bagi masyarakat yang sulit mendapatkan pekerjaan, atau akan memulai usaha tetapi terhalang keterbatasan modal. Berbeda dari bisnis konvensional yang membutuhkan biaya besar, stok barang, serta tempat penyimpanan.
Affiliate marketing tidak mewajibkan kamu memiliki produk sendiri. Artinya, kamu bisa menjalankan bisnis ini di mana saja, kapan saja, tanpa harus pusing memikirkan risiko kerugian yang tinggi. Di Indonesia sendiri, model bisnis affiliate telah banyak diterapkan sebagai pekerjaan sampingan oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai dari influencer, artis, pegawai tetap, hingga pelajar.
Salah satu contoh yang menonjol adalah seorang influencer Indonesia yang mampu meraih pendapatan sebesar Rp400–500 juta per bulan melalui aktivitas affiliate marketing, menunjukkan potensi besar dan daya tarik model bisnis ini di era digital.
Di era digital saat ini, media sosial bukan hanya sarana komunikasi, tetapi juga dapat menjadi sumber penghasilan, terutama melalui program affiliate marketing. Bagi masyarakat yang aktif di media sosial, ini merupakan peluang besar yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu bentuk produktivitas ekonomi.
Sebagaimana yang kita tahu, mencari pekerjaan di era sekarang bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, pentingnya untuk mencari solusi alternatif dan memanfaatkan potensi yang tersedia, khususnya dalam perkembangan digital yang semakin maju.
Semakin berkembangnya teknologi, semakin banyak pula peluang bisnis berbasis digital yang bisa diakses oleh siapa saja, salah satu contohnya adalah fitur live streaming di berbagai platform media sosial, yang dapat digunakan untuk promosi produk, edukasi, bahkan menjual secara langsung ke audiens. Media sosial bukan hanya sarana komunikasi, tetapi juga dapat menjadi sumber penghasilan, terutama melalui program affiliate marketing.
Pemaparan dalam artikel ini difokuskan pada pembahasan mengenai konsep dasar dan cara kerja affiliate marketing, serta keuntungan dan tantangan yang akan dihadapi. Apabila kita memahami affiliate marketing secara menyeluruh baik dari segi konsep, praktik, maupun regulasinya maka peluang untuk memperoleh penghasilan melalui model bisnis ini sangat terbuka lebar.
Meskipun dibutuhkan waktu yang tidak singkat untuk meraih hasil yang optimal, namun jika dijalankan secara konsisten, tekun, dan berkelanjutan, affiliate marketing berpotensi memberikan keuntungan yang signifikan.
//Konsep dasar dan cara kerja affiliate marketing
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan semakin ketatnya persaingan di sektor industri, muncul berbagai bentuk kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan media sosial sebagai alternatif berbisnis yang lebih fleksibel, hemat biaya, dan adaptif terhadap zaman.
Salah satu model bisnis digital yang tumbuh sangat cepat dan terbukti inklusif adalah affiliate marketing. Affiliate marketing adalah metode pemasaran berbasis komisi, di mana seseorang dapat memperoleh penghasilan dengan cara mempromosikan produk atau layanan milik pihak lain.
Berbeda dengan model bisnis konvensional yang membutuhkan modal besar, stok barang, dan pengelolaan gudang, sistem affiliate memungkinkan pelaku bisnis memperoleh penghasilan tanpa harus memiliki produk sendiri.
Penghasilan ini berbentuk komisi yang diterima setiap kali produk yang dipromosikan berhasil terjual, semakin banyak transaksi yang terjadi melalui link affiliasi, semakin besar pula komisi yang didapatkan.
Dalam praktiknya, affiliate marketing melibatkan tiga pihak utama Merchant (pemilik produk), Affiliate (promotor atau penghubung), dan Konsumen (pembeli akhir). Model kemitraan ini bersifat saling menguntungkan karena masing-masing pihak mendapatkan nilai atau manfaat dari keterlibatan mereka dalam ekosistem digital tersebut.
Perkembangan affiliate marketing sangat didorong oleh algoritma digital yaitu sistem atau instruksi dalam komputer yang memproses data untuk menghasilkan output tertentu. Algoritma inilah yang mengatur bagaimana konten diprioritaskan dan ditampilkan kepada pengguna pada berbagai platform digital.
Dengan semakin meluasnya penggunaan media sosial seperti TikTok, Shopee, Lazada, dan Amazon sebagai kanal promosi, affiliate marketing semakin relevan dan potensial sebagai bentuk usaha baru yang dapat dikerjakan siapa saja, dari mana saja.
Secara sederhana, algoritma bekerja layaknya “otak” dari platform digital, ia membaca preferensi pengguna, mengenali pola interaksi, lalu menyajikan konten yang dianggap paling sesuai. Hal ini memberi peluang besar bagi para affiliate untuk menjangkau audiens yang tepat dan meningkatkan potensi transaksi.
//Keuntungan dan tantangan yang dihadapi
Setiap jenis usaha tentu memiliki potensi kerugian, tergantung pada bagaimana cara pengelolaannya. Namun, risiko tersebut dapat diminimalkan apabila kita mampu membaca peluang dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.
Hal yang sama berlaku pada bisnis affiliate marketing, yang juga berisiko jika tidak dikelola dengan baik, akan tetapi affiliate memiliki potensi kerugian yang tergolong kecil. Mengapa? Karena modal yang dibutuhkan sangat rendah cukup dengan paket internet dan perangkat seperti smartphone.
Berbeda dengan bisnis konvensional, apabila tidak dikelola dengan cermat, kerugiannya bisa cukup besar. Hal ini disebabkan oleh adanya kebutuhan modal awal yang tinggi, biaya operasional, penyimpanan stok, serta risiko barang tidak laku. Semakin besar modal yang dikeluarkan, semakin tinggi pula potensi kerugian yang bisa dialami.
Affiliate marketing lebih cocok untuk individu yang memiliki ketekunan, semangat belajar, dan komitmen tinggi dalam membangun bisnis digital secara bertahap. Adapun beberapa keunggulan yang dimiliki oleh model bisnis ini antara lain yang pertama, tidak perlu repot mengelola stok produk karena produk yang dijual sudah dikelola oleh pihak pertama atau (merchant).
Kedua, waktu dan lokasinya lebih fleksibel dimana model bisnis affiliate ini dapat dikerjakan dimana saja dan kapanpun. Ketiga, biaya operasional yang dikeluarkan rendah karena modal yang diperlukan hanyalah smartphone, perangkat dan koneksi internet.
Keempat, potensi penghasilan yang pasif, kita akan mendapatkan komisi secara berkala apabila link digunakan orang lain yang. Terakhir, bisnis ini dapat dikembangkan secara bertahap yang cocok bagi pemula yang mau masuk ke dunia bisnis.
Dalam dunia bisnis, hampir tidak ada proses yang berjalan sepenuhnya sesuai dengan keinginan. Justru, ketidaksesuaian itulah yang menjadi sarana pembelajaran untuk melatih konsistensi, kreativitas, dan profesionalisme dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.
Tantangan yang dihadapi bukan untuk dihindari, tetapi untuk diolah menjadi pemacu inovasi, sekaligus melatih kemampuan beradaptasi dengan perkembangan digital yang dinamis.
Affiliate marketing sebagai model bisnis digital yang inklusif dan fleksibel juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Adapun tantangan yang biasanya terjadi pada bisnis affiliate antara lain yang pertama, tingkat persaingan yang tinggi, di mana ribuan orang mempromosikan produk yang serupa sehingga dibutuhkan strategi dan kreativitas tinggi untuk menarik konsumen dengan konten promosi yang menonjol.
Kedua, ketergantungan pada algoritma platform digital sangat dipengaruhi performa konten media sosial yang berubah sehingga konten bagus juga belum tentu akan mendapatkan jangkauan maksimal. Ketiga, penghasilan tidak instan diperlukan waktu untuk membangun audiensi, kepercayaan dan konsisten sebelum komisi mulai stabil.
Keempat, tuntutan etika dan kepatuhan regulasi, yakni affiliate merchant harus jujur dalam menyampaikan produk yang di jual karena apabila produk tersebut menyesatkan bisa melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
Kelima, butuh konsistensi dan kreativitas berkelanjutan agar tetap relevan di hadapan audiensi dan affiliator juga harus mempelajari tren terbaru. Dengan memahami tantangan-tantangan di atas sebagai bagian dari proses pertumbuhan, pelaku affiliate marketing dapat meningkatkan kualitas dirinya sebagai profesional digital lebih tangguh, adaptif, dan mampu membaca kebutuhan pasar dengan lebih baik.