Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Perihal Seekor Anak Kucing Nelangsa yang Telantar di Sudut Pasar Koba

Alfian N. Budiarto-Dok Pribadi-

Cerpen Alfian N. Budiarto

Kamu tidak terlalu suka riuh suasana pasar. Orang-orang berlalu lalang, para pedagang berteriak menjajakan barang-barang, pun tukang parkir yang memberi aba-aba supaya motor-motor yang baru datang langsung tertata, termasuk motormu.

 

Di bawah sebatang pohon angsana yang barangkali ditanam tidak jauh sebelum kamu lahir, kamu memarkirkan motor butut warisan orang tua. Tentu sepeda motor itu sudah banyak makan asam garam; mengantar ayahmu pulang-pergi bekerja sebagai guru honorer, hingga setelah beliau pensiun kamu menggunakan kendaraan kesayangannya itu untuk pergi ngelimbang. 

 

Tentu saja ayahmu tidak bisa protes ketika motornya kini tidak lagi terawat seperti dulu—persis wajahmu yang nyaris dipenuhi brewok. Sebab, laki-laki yang memang jarang bicara itu sudah lebih dulu menyusul ibumu ke surga beberapa tahun lalu.

 

Kamu baru hendak menapakkan kaki di deretan lapak para pedagang ketika indra penciumanmu sudah lebih dulu mencium aroma amis ikan yang berbaur dengan bau ayam serta daging segar. Andai istrimu tidak sedang mengidam makan lempah kuning ikan seminyak, kamu pasti enggan mengunjungi keramaian dan berkutat dengan aroma-aroma tadi. 

 

Aroma yang cukup kompleks dan rumit, seperti halnya isi kepalamu yang semakin pelik memikirkan persiapan biaya persalinan, pengeluaran untuk membeli susu dan popok, ditambah kebingungan menerka cara mengolah ikan seminyak menjadi lempah kuning. 

 

Bukan tanpa sebab, selain mengidam makan lempah kuning, istrimu yang sedang menantikan hari-hari menjelang persalinan itu juga ingin makan lempah kuning yang dibuat oleh tanganmu sendiri. Padahal ia tahu benar bahwa meski kamu lahir dan besar di Pulau Bangka, kamu tidak mahir memasak ikan.

 

Belum juga sempat masuk ke bagian dalam pasar, sepasang matamu justru teralihkan pada sesuatu yang malang. Di sudut depan pasar, kamu mendapati seekor anak kucing yang berjalan tertatih-tatih. Terseok-seok. Kaki kirinya pincang. Entah karena cedera atau memang karena bawaan lahir. Melihat hal itu kamu seolah-olah sedang berkaca; melihat kesamaan di antara kalian. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan