Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Membaca Ulang Makna Kebangkitan: Saatnya Pendidikan Jadi Jalan Pulang

--

Oleh: Andy Muhtadin

Kepala SMP Negeri 2 Dendang

 

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa kita Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional, sebuah titik balik sejarah yang menandai lahirnya kesadaran kolektif untuk bersatu, merdeka dan maju sebagai bangsa yang beradab. Tapi lebih dari sekadar mengenang Boedi Oetomo, hari ini kita semestinya menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran bersama, bukan sekadar seremoni atau nostalgia masa lalu semata.

Meriahnya acara seremoni dan upacara yang kita gelar saat ini, maka inilah waktunya bagi kita untuk sejenak berhenti dan merenung. Apa sesungguhnya makna kebangkitan kita pada hari ini? Apakah kita benar-benar telah bangkit, atau justru terlena dalam narasi kemajuan yang belum sepenuhnya kita miliki?

Dalam konteks kebangsaan kita hari ini, pendidikan menjadi medan utama dari perjuangan yang belum selesai. Karena sesungguhnya kebangkitan sejati bukan hanya soal sejarah dan simbol. Tetapi tentang bagaimana kita menyiapkan generasi penerus yang cerdas, adil dan berdaya di tengah dunia yang terus berubah ini.

 

//Dulu Kita Melawan Penjajah, Sekarang Kita Melawan Ketimpangan

Para tokoh pergerakan nasional  seperti pelajar-pelajar STOVIA dulu, mereka memahami betul bahwa kemerdekaan tak hanya bisa di raih dengan senjata. Mereka tahu, ketidaktahuan itu merupakan bentuk dari penjajahan yang paling halus tapi yang paling dalam dan kejam. Maka itu, pendidikan dijadikan alat perjuangan yang ampuh oleh mereka. Mereka membangun sekolah, mendidik rakyat dan menyadarkan bangsa kita.

 

Sekarang, kita memang tak lagi di jajah secara fisik. Tetapi, apakah kita sudah benar-benar bebas dari belenggu ketimpangan pendidikan itu?. Jawabannya, belum.

 

Lihat saja kenyataan di sekitar kita. Kesempatan memperoleh pendidikan yang layak masih terkendala oleh letak geografis dan keterbatasan ekonomi. Masih menciptakan jurang pemisah yang semakin dalam. Sekolah-sekolah di kota besar dipenuhi fasilitas canggih, sementara di pelosok, bangunan sekolah bahkan ada yang masih rusak. Anak-anak di sejumlah desa masih harus berjalan jauh setiap hari agar dapat bersekolah dan memperoleh pendidikan. Sementara anak-anak di kota bisa belajar dari rumah dengan internet yang cepat. Ini bukan cerita baru. Kita punya data, kita tahu angkanya. Tapi sayangnya, data tanpa aksi hanya akan jadi arsip.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan