Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Mangrove dan Masyarakat: Modal Sosial sebagai Pilar Ketahanan Lingkungan

--

Oleh: Budi Darmawan
Dosen Sosiologi, Universitas Bangka Belitung

Indonesia memiliki kekayaan hutan mangrove yang luar biasa. Menurut Peta Mangrove Nasional (KLHK, 2021), luas total mangrove di Indonesia mencapai 3,36 juta hektar, dengan 2,66 juta hektar berada dalam kawasan yang sudah ditetapkan dan sisanya tersebar di luar zona konservasi. Salah satu wilayah dengan ekosistem mangrove penting adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sebagai daerah kepulauan, Bangka Belitung dikelilingi oleh garis pantai yang panjang, menjadikannya habitat ideal bagi mangrove. Data Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah II mencatat, luas mangrove di provinsi ini pernah mencapai 64.567 hektar. Namun, nasibnya berubah drastis. Pada 2011, sekitar 60-70% hutan mangrove di Bangka Belitung mengalami kerusakan dan penyusutan yang mengkhawatirkan.

Akar masalahnya adalah aktivitas tambang timah inkonvensional (TI) yang marak dilakukan masyarakat. Praktik penambangan liar ini menggerus kawasan pesisir, mengubah bentang alam, dan merusak ekosistem mangrove. Padahal, mangrove bukan sekadar pelindung pantai dari abrasi, melainkan juga penopang kehidupan biota laut dan penyerap karbon yang vital.

Jika tidak ada intervensi serius, ancaman kehilangan mangrove di Bangka Belitung bukan sekadar angka statistik, melainkan bencana ekologis yang berdampak panjang.

Berangkat dari fenomena ini, muncul pertanyaan penting: bagaimana masyarakat lokal bisa berperan aktif dalam menjaga kelestarian mangrove?

Di sinilah peran modal sosial menjadi sangat relevan. Konsep yang diperkenalkan oleh para sosiolog seperti Putnam, Bourdieu, dan Coleman ini merujuk pada jaringan, norma, dan kepercayaan bersama yang memungkinkan masyarakat bekerja sama demi tujuan bersama. Dalam kacamata sosiologi, modal sosial tidak hanya menjadi alat analisis, tapi juga strategi bertahan yang digunakan masyarakat dalam menghadapi tekanan lingkungan maupun struktural.

//Modal Sosial: Kunci Kolaborasi Masyarakat
Modal sosial bukan hanya tentang hubungan antarindividu, tapi juga menyangkut nilai-nilai dan cara pandang kolektif terhadap lingkungan. Dalam pengelolaan sumber daya alam seperti hutan mangrove, keberhasilan sering kali lebih ditentukan oleh seberapa kuat masyarakat bisa saling percaya, berkomunikasi, dan bekerja sama, bukan semata-mata oleh kebijakan atau teknologi.

Pierre Bourdieu menyebut modal sosial sebagai "sumber daya yang muncul dari hubungan sosial, yang bisa dimanfaatkan untuk meraih keuntungan." Dalam konteks pelestarian mangrove, hal ini tercermin dalam gotong royong warga, dukungan organisasi lokal, serta hubungan kepercayaan antara masyarakat dan pihak luar seperti pemerintah atau LSM.

Masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan mangrove dan menggantungkan hidup padanya biasanya memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya menjaga ekosistem ini. Kesadaran itu membentuk modal sosial yang memungkinkan mereka bergerak bersama, misalnya dalam kegiatan rehabilitasi mangrove atau menjaga wilayahnya dari ancaman kerusakan.

//Studi Kasus: Mangrove Munjang di Desa Kurau Barat
Salah satu contoh sukses datang dari Mangrove Munjang di Desa Kurau Barat, Kabupaten Bangka Tengah. Di wilayah ini, masyarakat berhasil memulihkan hutan mangrove yang sempat rusak akibat aktivitas tambang timah dan pembangunan.

Kunci keberhasilan mereka terletak pada kekuatan jaringan sosial yang sudah terbangun lama di antara warga. Melalui kebiasaan gotong royong dan aktivitas sosial ekonomi yang melibatkan banyak orang, muncul rasa kebersamaan dalam menjaga hutan mangrove. Bagi mereka yang kebanyakan adalah nelayan dan petani, mangrove bukan hanya penahan abrasi tapi juga penyedia sumber daya penting untuk bertahan hidup seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang yang dihasilkan tanpa perlu melakukan pelayaran jauh ke tengah selama musim angin kencang.

Kepercayaan antarwarga menjadi landasan kuat untuk menjalankan program penanaman kembali mangrove. Kelompok pemuda dan organisasi masyarakat juga aktif menyebarkan pengetahuan tentang pentingnya mangrove, baik dari sisi ekologi maupun ekonomi. Salah satu kegiatan andalan mereka adalah program “Mangrove Rescue”, yang bertujuan menghijaukan kembali lahan mangrove rusak dan memantau keberlanjutannya.

Hubungan yang baik antara masyarakat dan pemerintah daerah juga sangat membantu. Pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah memberikan dukungan dalam bentuk teknis dan logistik, sementara warga yang menjadi pelaku utama di lapangan. Kerja sama lintas pihak ini berjalan baik karena adanya modal sosial yang kuat.

//Membangun dan Merawat Modal Sosial
Pelajaran dari Desa Kurau Barat menunjukkan bahwa upaya konservasi tak bisa hanya mengandalkan kebijakan dari atas. Harus ada kekuatan sosial dari bawah, yakni dari masyarakat itu sendiri. Modal sosial bukan sekadar soal bisa bekerja sama, tapi juga soal adanya nilai-nilai bersama yang menghormati dan menjaga lingkungan.

Pemerintah dan organisasi yang bergerak di bidang pelestarian alam sebaiknya melibatkan masyarakat sejak awal, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan program. Pengetahuan lokal sering kali jauh lebih kontekstual dan aplikatif dibanding solusi yang dibawa dari luar. Memberikan pelatihan, meningkatkan kapasitas warga, dan mengakui peran mereka sebagai pengelola ekosistem juga penting dilakukan.

Kebijakan pemberdayaan masyarakat harus terus didorong. Misalnya, melalui pemberian insentif ekonomi bagi warga yang menjaga hutan mangrove, atau dengan mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis mangrove seperti ekowisata dan produk olahan bernilai jual.

Sebagai penutup, saya meyakini bahwa modal sosial terbukti menjadi fondasi penting dalam menjaga kelestarian hutan mangrove. Kisah sukses di Mangrove Munjang, Desa Kurau Barat, adalah bukti bahwa kekuatan kolektif masyarakat bisa membawa perubahan nyata dan berkelanjutan. Oleh karena itu, memperkuat modal sosial seharusnya menjadi bagian penting dari kebijakan konservasi di Indonesia. Tanpa dukungan masyarakat dan jaringan sosial yang kuat, pelestarian mangrove hanya akan menjadi wacana di atas kertas.

Mangrove bukan sekadar pohon di pesisir, tapi simbol masa depan. Dan masa depan itu, hanya bisa dirawat lewat kebersamaan.**

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan