Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Memotret Realitas, Menghadirkan Pendidikan Berdampak

Fauzi.-Dok Pribadi-

Pembelajaran yang ideal semestinya mampu membuat mahasiswa melihat sesuatu yang sebelumnya belum disadari dan belum dimengerti. Ketika seseorang memotret seorang pedagang, misalnya, yang direkam bukan hanya aktivitas jual beli. Dibaliknya terdapat cerita mengenai perjuangan, kreativitas, harapan, bahkan ketahanan ekonomi keluarga. Sebuah foto akan menjadi lebih dari sekadar gambar, foto pada waktunya akan  menjadi dokumentasi sejarah kehidupan dan peradaban umat manusia.

 

Hal lain yang membuat saya terkesan, kenyataan bahwa kegiatan pameran fotografi ini dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Sebagian orang mungkin masih memiliki pandangan bahwa mahasiswa PAI hanya berkutat pada pembelajaran agama Islam, bergulat dengan konsep pendidikan dan pembelajaran, belajar teori didaktik metodik, atau hanya terkait dengan aktivitas persiapan menjadi pengajar. Padahal sesungguhnya dunia pendidikan saat ini menuntut kompetensi yang jauh lebih luas, membutuhkan seperangkat kreativitas dan multi kompetensi. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa mereka belajar banyak hal.

 

Seorang calon guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran pada bidang ilmunya semata, tetapi juga mampu berkomunikasi, berpikir kreatif, memahami masyarakat, memanfaatkan teknologi, dan menghasilkan media pembelajaran yang menarik. Dalam konteks tersebut, fotografi sebenarnya bukan sekadar keterampilan mengabadikan objek dengan kamera. Fotografi melatih kepekaan, kemampuan mengamati, mengolah jiwa seni, kesabaran, kreativitas, hingga kemampuan menyampaikan pesan melalui media visual.

 

Kompetensi-kompetensi seperti inilah yang justru semakin dibutuhkan di abad ke-21. Kehadiran teknologi digital juga mengubah cara manusia berkomunikasi. Media sosial, platform digital, bahkan dunia pendidikan semakin banyak memanfaatkan media visual sebagai sarana menyampaikan gagasan dan informasi. Oleh karena itu, kemampuan menghasilkan karya visual yang baik sesungguhnya menjadi nilai tambah yang penting bagi mahasiswa saat ini, tak terkecuali mahasiswa calon guru.

 

Jika dilihat dari perspektif ekonomi, karya fotografi juga memiliki peluang prospek ekonomi. Banyak fotografer profesional memulai perjalanan karir mereka dari tugas kuliah atau hobi sederhana. Ada yang kemudian menjadi fotografer komersial, pembuat konten digital, pengelola media sosial, hingga pendiri studio kreatif. Dengan demikian keterampilan yang dipelajari di bangku kuliah tidak menutup peluang berkembang menjadi profesi di masa depan. Hal ini menjadi nilai tambah kompetensi bagi lulusan. Dengan demikian pembelajaran yang didesain dengan kreatif dan produktif dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas tidak hanya secara akademik.

 

Dalam pandangan saya, inilah salah satu wajah pendidikan tinggi sesungguhnya yang harus terus dikembangkan. Kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga mampu menciptakan karya yang relevan dengan kebutuhan zaman. Pameran seperti ini juga menunjukkan bahwa proses belajar sebenarnya dapat menjadi ruang kolaborasi. 

 

Mahasiswa belajar dari dosen, tetapi pada saat yang sama mereka juga belajar dari masyarakat, dan juga dari para profesional di kampus dan di luar kampus. Pada sisi lain masyarakat juga dapat memperoleh manfaat karena produk kreatifnya, aktivitas, dan potensi yang dimiliki mendapatkan ruang untuk dikenal lebih luas melalui publikasi karya mahasiswa.

 

Hubungan simbiosis seperti ini menjadikan kampus tidak terpisah dari masyarakat, melainkan hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial. Di sisi lain, saya melihat bahwa pendekatan pembelajaran berbasis proyek seperti ini memberikan pengalaman yang jauh lebih membekas dibandingkan pembelajaran yang hanya bersifat teoritik. 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan