Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Memotret Realitas, Menghadirkan Pendidikan Berdampak

Fauzi.-Dok Pribadi-

 

Sekilas kegiatan tersebut tampak seperti pameran fotografi pada umumnya. Puluhan foto dipajang dengan komposisi yang menarik dan artistik, pengunjung datang menikmati karya, kemudian memberikan apresiasi kepada para pembuatnya. Namun, ketika dilihat lebih dalam, saya justru menemukan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar hasil foto atau gambar yang bagus, melainkan hasil dari proses belajar yang telah direalisasikan. 

 

Produk kerja intelektual yang memadukan soft skill dan hard skill;  memadukan cipta, rasa, dan karsa; serta mengintegrasi antara kerja fikir, ketrampilan tangan, dan seni. Ketika kita sering berbicara pendidikan holistik integratif, maka inilah wujud nyata dari formulasi pendidikan yang memadukan spirit holistik integratif.

 

Setiap foto lahir dari eksplorasi mahasiswa yang berkunjung di berbagai tempat. Mereka bertemu dengan masyarakat, berbincang dengan pelaku UMKM, mengamati aktivitas ekonomi, mengenali potensi daerah, berdialektika dengan realitas, hingga menyaksikan berbagai program pemerintah yang sedang dijalankan. Foto karya jepretan kamera mahasiswa menjadi media untuk mereka bercerita tentang realitas dan pengalaman empirik di tengah kehidupan.

 

Kondisi itulah yang menurut saya menarik. Selama ini kita sering memandang pembelajaran sebagai aktivitas yang identik dengan ruang kelas. Dosen menjelaskan materi, mahasiswa menyimak dan mencatat, terkadang disisipi tanya jawab dan diskusi lalu seluruh rangkaian pembelajaran berakhir ketika ujian akhir semester selesai. Padahal sesungguhnya banyak pengetahuan yang justru hanya dapat dipahami ketika mahasiswa bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan.

 

Melalui pendekatan pembelajaran seperti itu, mahasiswa belajar bahwa masyarakat bukan sekadar objek, melainkan sumber pengetahuan yang sangat kaya dan unik. Mereka belajar memahami bagaimana sebuah usaha kecil bertahan, bagaimana masyarakat beradaptasi dengan perubahan, bagaimana ide diwujudkan, serta bagaimana kebijakan pemerintah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa juga belajar bagaimana kehidupan itu semestinya dijalani.

 

Pengalaman semacam itu tidak didapatkan ketika mahasiswa hanya dari membaca buku atau mendengarkan ceramah dosen di ruang-ruang kuliah. Mahasiswa perlu mengenali dan berproses secara langsung dalam kehidupan, sehingga akan mendapatkan pengalaman nyata. 

 

Konteks seperti inilah yang disampaikan oleh John Dewey (1859-1952) tokoh pendidikan progresif yang menekankan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman, ada hubungan kuat antara pendidikan dan pengalaman, ruang-ruang kehidupan menjadi laboratorium mahasiswa belajar mengenali dan memecahkan masalah.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan