Menjadi Guru PAI yang Transformatif dalam Arus Globalisasi Pendidikan
M. Yanuar Anoseputra.-Dok Pribadi-
Maksudnya adalah orang berilmu pengetahuan luas, malah akan berbahaya jika tidak memiliki dasar akhlak yang baik, karena ilmu bisa dibuat untuk kejahatan. Namun jika ilmu disertai akhlak yang baik, ia akan sangat bermanfaat bagi kemaslahatan umat.
Lalu apa hubungannya dengan arus globalisasi pendidikan di Indonesia ? Bentuk globalisasi pendidikan itu adalah masukknya pengaruh dunia ke sistem pendidikan Indonesia. Bisa berupa teknologi, budaya, standar pendidikan maupun kurikulum. Semakin maju zaman, era globalisasi semakin nyata, termasuk dunia pendidikan.
Akses informasi yang kian cepat membuat kita bisa mengetahui kemajuan yang ada di belahan negara lainnya. Misalnya dalam tolak ukur pendidikan yang mendunia, seperti PISA. Hal ini membuat kita berusaha mengejar nilai PISA itu agar tidak kalah dengan negara lain, karena menjadi standar kualitas pendidikan dunia. Kemudian kita juga memiliki nilai AKM, hal ini juga menjadi agenda tahunan sekolah untuk berusaha bagaimana agar nilai AKM tidak jatuh.
Selain itu, bentuk globalisasi pendidikan lainnya di Indonesia adalah muncul banyak lembaga pendidikan yang mengadopsi kurikulum luar negeri. Sekolah-sekolah internasional. Lalu ada juga dalam bentuk teknologi seperti google dan berbagai platform pendidikan yang sedang berkembang.
Semua ini adalah arus globalisasi pendidikan yang menggerus di Indonesia. Semuanya bisa menjadi berdampak positif, dan bisa juga berdampak negatif. Dampak positifnya seperti mutu meningkat, daya saing meningkat, akses ilmu luas, dan kolaborasi yang global. Dampak negatifnya seperti westernisasi nilai, kesenjangan digital sekolah perkotaan dan daerah tertinggal, dan komersialisasi pendidikan.
Lalu bagaimana kita sebagai guru Pendidikan Agama Islam menyikapi agar tetap bisa mencapai tujuan pendidikan nasional? Dalam tujuan pendidikan nasional tadi jelas mengedepan manusia yang berakhlak. Namun dengan arus globalisasi pendidikan, kita tetap harus berusaha di saat sekolah mengejar nilai-nilai untuk memenuhi standar nasional bahkan internasional.
Sedangkan manusia Indonesia, memang harus menjadi manusia yang berakhlak baik dan berilmu pengetahuan yang luas. Hal ini sangat menjadi tantangan yang serius bagi kita guru PAI. Jika hanya mengikuti pola, maka pembelajaran PAI akan tertinggal. Ketika mapel lain sibuk dengan pembahasan rumus baru, metode baru, pendekatan baru, maka guru PAI juga harus membahas itu semua agar tidak ketinggalan.