Menjadi Guru PAI yang Transformatif dalam Arus Globalisasi Pendidikan
M. Yanuar Anoseputra.-Dok Pribadi-
Guru PAI bisa menjadikan globalisasi pendidikan itu sebagai sarana untuk pembelajaran. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi. Namun hal itu tidak cukup untuk menghasilkan manusia yang berakhlak baik. Perlu ada upaya ekstra agar PAI semakin meresap dalam ingatan dan menjadi kebiasaan peserta didik. Yaitu dengan memanfaatkan Hidden Curriculum atau Budaya Sekolah. Guru PAI harus mendesain bagaimana budaya sekolah untuk diterapkan di sekolah, agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Seperti beribadah harian, bersikap sopan santun, kejujuran, dan mulai belajar berkata baik dalam sehari-hari.
Apalagi bagi guru PAI di sekolah-sekolah negeri, yang pembelajaran PAI-nya hanya seminggu sekali. Maka memang perlu membuat program khusus unggulan Pendidikan Agama Islam untuk diterapkan dalam keseharian. Seperti penerapan sunnah-sunnah Rasulullah Saw. Misalnya senyum dan salam, bicara yang baik, jujur, dahulukan kanan, rendah hati, pemaaf. Program lain yang bisa dilaksanakan seperti salat duha, salat zuhur berjamaah, membaca do’a, hafalan ayat-ayat pilihan, hafalan do’a pilihan, menjaga kebersihan, adab makan minum, menghormati orang tua dan guru.
Semuanya harus dilakukan dengan konsisten dan dijadikan Budaya Sekolah. Sehingga dengan jam pelajaran mapel PAI yang ada, tujuan pendidikan nasional untuk membentuk manusia Indonesia yang berakhlak baik bisa tetap tercapai.**