Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Berhalalbihalal di Setiap Waktu

Syamsul Bahri.-Dok Pribadi-

 

Pedagang martabak ini dibantu oleh pembantu primbuminya kemudian mempromosikan dagangannya dengan kata-kata ‘martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal’. Sejak saat itu, istilah halalbehalal mulai populer di masyarakat Solo. Dari situlah masyarakat kemudian menggunakan istilah ini untuk sebutan seperti pergi ke Sriwedari di hari lebaran atau silaturahmi di hari lebaran. Kegiatan halalbihalal kemudian berkembang menjadi acara silaturahmi saling bermaafan saat Lebaran.

 

Versi kedua asal usul halalbihalal berasal dari KH Abdul Wahab Hasbullah pada tahun 1948. KH Wahab merupakan seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Wahab memperkenalkan istilah Halalbihalal pada Bung Karno sebagai bentuk cara silaturahmi antar-pemimpin politik yang pada saat itu masih memiliki konflik. 

 

Atas saran KH Wahab, pada Hari Raya Idulfitri di tahun 1948, Bung Karno mengundang seluruh tokoh politik datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahmi yang diberi judul 'Halalbihalal.' Para tokoh politik akhirnya duduk satu meja. Mereka mulai menyusun kekuatan dan persatuan bangsa ke depan. Sejak saat itu, berbagai instansi pemerintah di masa pemerintahan Bung Karno menyelenggarakan halalbihalal.

 

Tradisi halalbihalal memang diciptakan oleh bangsa Indonesia, namun tradisi seperti ini juga ada di negara-negara Islam lainnya, hanya saja pengemasan dan pelabelannya saja yang berbeda. Seperti di Malaysia halalbihalal disebut dengan istilah open house. Biasanya di Malaysia akan mengadakan open house dengan bergiliran di delapan wilayahnya. Dan open house nasional Malaysia akan digelar bersama oleh pemerintah federal, pemerintah negeri, dan pemerintah wilayah persekutuan.

 

Kemudian di Brunei Darussalam juga menggunakan istilah open house untuk Idulfitri, atau sering disebut Hari Raya Open House. Biasanya istana Sultan Brunei ini dibuka selama 3 hari pada perayaan Idulfitri. Warga bisa bertemu sultan dan istrinya pada periode open house dan makan free buffet. 

 

Selanjutnya di negara-negara Arab, tradisi mirip halal bihalal dikenal dengan istilah eid majlis atau al-majlis al-oud. Pada tradisi ini, warga berkumpul dengan keluarga besar dan memberikan uang lebaran pada anak kecil (eidiya). Khusus pada lebaran di Qatar, ada tradisi tarian rakyat Ardhat yang ditarikan laki-laki usai salat di siang hari. Sementara itu, anak-anak lazimnya berkumpul di permukiman (freyj) dan mengunjungi sanak saudara.

 

 

Halalbihalal di Setiap Waktu

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan