Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Media Sosial dan Penyakit Hati: Ketika Hasad, Riya, dan Ujub Menemukan Rumah Baru

Feny Cholisoh.-Dok Pribadi-

Dalam penelitiannya, Subandi membandingkan konsep penyakit hati dalam karya Abu Hamid Al-Ghazali Ihya’ Ulumuddin dengan sistem klasifikasi gangguan mental dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR) yang digunakan dalam praktik psikologi dan psikiatri modern. Hasilnya menunjukkan bahwa berbagai penyakit hati yang dijelaskan oleh Al-Ghazali seperti iri, kesombongan, kemarahan berlebihan, dan cinta berlebihan terhadap pujian memiliki keterkaitan dengan berbagai gejala psikologis yang juga dikenal dalam kajian klinis modern. Dalam banyak kasus, kondisi-kondisi batin tersebut bahkan dapat menjadi faktor awal yang berkontribusi pada munculnya gangguan mental jika tidak dikelola dengan baik.

 

Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam sebenarnya telah lama memberikan perhatian terhadap kesehatan psikologis manusia, meskipun menggunakan bahasa dan kerangka konseptual yang berbeda. Apa yang disebut sebagai penyakit hati dalam literatur tasawuf dapat dipahami sebagai kondisi batin yang tidak sehat, yang dalam psikologi modern sering dikaitkan dengan berbagai masalah regulasi emosi, harga diri, dan relasi sosial. Dalam konteks ini, fenomena media sosial menjadi semakin menarik untuk dikaji. Platform digital tidak hanya memengaruhi perilaku sosial manusia, tetapi juga dapat memperkuat berbagai dinamika psikologis yang telah lama dikenal dalam tradisi spiritual Islam.

 

//Menjaga Kesehatan Hati di Era Digital

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia tidak otomatis merusak manusia. Namun tanpa kesadaran spiritual dan psikologis yang cukup, ruang digital dapat memperbesar kecenderungan negatif dalam diri manusia. Di sinilah ajaran agama kembali menemukan relevansinya. Islam tidak hanya mengatur perilaku lahiriah, tetapi juga memberikan perhatian besar terhadap kondisi batin manusia. Konsep seperti ikhlas, syukur, tawadhu, dan qana’ah merupakan latihan batin yang membantu manusia menjaga keseimbangan psikologisnya.

 

Kesadaran terhadap penyakit hati membuat seseorang lebih reflektif ketika menggunakan media sosial. Ketika melihat keberhasilan orang lain, ia belajar menumbuhkan syukur. Ketika ingin menampilkan sesuatu kepada publik, ia belajar memeriksa niatnya. 

 

Serta ketika mendapatkan pujian, ia belajar menjaga kerendahan hati. Pada akhirnya, tantangan terbesar manusia di era digital bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan menjaga kejernihan hati di tengah dunia yang penuh dengan panggung dan perhatian. 

 

Media sosial mungkin merupakan fenomena baru, tetapi pergulatan batin manusia tetaplah sama. Apa yang dahulu dibahas dalam kitab-kitab klasik ternyata masih sangat relevan untuk memahami dinamika psikologis manusia modern.(Sumber kemenag.go.id dengan judul yang sama)

 

 

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan