Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Media Sosial dan Penyakit Hati: Ketika Hasad, Riya, dan Ujub Menemukan Rumah Baru

Feny Cholisoh.-Dok Pribadi-

“Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa: 54).

 

Dalam psikologi modern, perasaan iri yang terus-menerus berkaitan dengan meningkatnya stres psikologis dan ketidakpuasan terhadap hidup. Ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain, ia lebih mudah merasa gagal, tertinggal, rendah diri, atau tidak berharga.

 

//Riya dan Pencarian Validasi Sosial

Selain hasad, media sosial juga membuka ruang luas bagi munculnya riya, yaitu keinginan untuk menampilkan diri agar mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Banyak aktivitas yang sebenarnya bersifat pribadi kemudian dipublikasikan agar mendapatkan respons sosial berupa likes, komentar, atau jumlah pengikut. Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan kebutuhan akan validasi sosial. Manusia secara alami membutuhkan pengakuan dari lingkungan. Namun ketika harga diri seseorang sepenuhnya bergantung pada respons publik di media sosial, kondisi psikologisnya menjadi sangat rapuh. Islam memberikan peringatan keras terhadap perilaku riya. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

 

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad). Hadis ini menunjukkan bahwa keinginan untuk mendapatkan pujian manusia dapat secara perlahan menggeser orientasi spiritual seseorang.

 

//Ujub dan Citra Diri Digital

Penyakit hati lain yang juga mudah berkembang di ruang digital adalah ujub, yaitu perasaan bangga berlebihan terhadap diri sendiri. Media sosial memberikan panggung yang luas bagi individu untuk membangun citra diri tertentu. Ketika seseorang terus-menerus menampilkan keberhasilan dan mendapatkan penguatan sosial dari lingkungannya, perlahan dapat muncul keyakinan bahwa dirinya lebih unggul dari orang lain. Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan pembentukan identitas yang sangat bergantung pada citra publik atau self-presentation. Masalahnya, identitas yang dibangun hanya dari citra digital sering kali rapuh. Ketika perhatian publik berkurang atau citra tersebut tidak lagi mendapat pengakuan, individu dapat mengalami krisis kepercayaan diri.

 

//Penyakit Hati dan Kesehatan Mental

Menariknya, pembahasan tentang penyakit hati tidak hanya relevan dalam perspektif spiritual, tetapi juga memiliki kaitan dengan kajian psikologi modern. Penelitian yang dilakukan oleh Subandi (dalam artikelnya Al-Ghazali’s Concept of Diseases of the Spiritual Heart and Its Significance to the DSM-5-TR Diagnosis) menunjukkan bahwa berbagai konsep penyakit hati dalam tradisi Islam memiliki kesesuaian dengan konsep gangguan mental dalam sistem diagnostik psikologi modern.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan