Media Sosial dan Penyakit Hati: Ketika Hasad, Riya, dan Ujub Menemukan Rumah Baru
Feny Cholisoh.-Dok Pribadi-
Oleh Feny Cholisoh
Psikolog Klinis & Dosen Psikologi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Suatu pagi seseorang membuka ponselnya. Dalam beberapa detik ia sudah melihat teman yang baru saja lulus studi, rekan kerja yang mendapatkan promosi jabatan, seorang influencer yang memamerkan liburan mewah, dan seorang tokoh agama yang membagikan aktivitas ibadahnya. Tanpa disadari, perasaan dalam dirinya mulai berubah: sedikit iri, sedikit tidak puas, dan mungkin juga keinginan untuk menunjukkan bahwa dirinya pun memiliki sesuatu yang layak untuk dipamerkan.
Fenomena ini bukan sekadar pengalaman pribadi banyak orang. Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai social comparison, yaitu kecenderungan manusia untuk menilai dirinya dengan membandingkan kehidupan orang lain. Psikolog Leon Festinger sejak lama menjelaskan bahwa manusia secara alami melakukan perbandingan sosial untuk memahami posisi dirinya di lingkungan. Namun di era media sosial, proses perbandingan ini terjadi hampir tanpa henti.
Setiap hari manusia melihat potongan-potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih religius. Paparan yang terus-menerus ini dapat memicu kecemasan, rasa tidak cukup baik, bahkan menurunkan kesejahteraan psikologis. Beberapa penelitian psikologi modern juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Menariknya, dinamika psikologis ini sebenarnya telah lama dibahas dalam tradisi keilmuan Islam melalui konsep penyakit hati. Para ulama klasik menjelaskan bahwa kerusakan perilaku manusia sering berawal dari kondisi batin yang tidak sehat. Dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menguraikan berbagai penyakit hati yang dapat merusak kehidupan spiritual dan sosial manusia. Jika dilihat dalam konteks kehidupan modern, media sosial justru menyediakan ruang yang sangat subur bagi tumbuhnya penyakit hati tersebut.
//Hasad di Era Perbandingan Sosial
Salah satu penyakit hati yang paling mudah muncul di ruang digital adalah hasad, yaitu rasa iri terhadap nikmat yang dimiliki orang lain. Media sosial menampilkan kehidupan dalam versi yang paling menarik. Foto kebahagiaan, pencapaian karier, atau keberhasilan spiritual sering ditampilkan tanpa memperlihatkan perjuangan dan kesulitan di baliknya. Akibatnya, seseorang dapat merasa kehidupannya sendiri tampak lebih kecil dibandingkan kehidupan orang lain yang terlihat di layar. Islam sejak awal telah mengingatkan bahaya perasaan ini. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: