Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Agama dan Algoritma: Kebenaran dan Perhatian dalam Studi Islam

Faisal Riza.-Dok Pribadi-

Para sarjana dan institusi Islam di Indonesia juga menghadapi pilihan sulit: hadir di media sosial tanpa larut dalam logika viralitas. Ini menuntut keberanian untuk tetap memproduksi wacana yang mendalam, kontekstual, dan dialogis, meski tidak selalu populer. 

 

Bak kata orang kampung, “Biar sunyi asal bernilai, biar sedikit asal berisi.” Islam memiliki modal normatif untuk mengkritik etika algoritma. Prinsip wasatiyyah dapat melawan ekstremisme digital. Prinsip ‘adl dapat menjadi kritik terhadap ketimpangan visibilitas. Prinsip amanah dapat menjadi dasar etika produksi konten keagamaan.

 

Seperti lagu Malaysia tahun 90-an, Salim Iklim, yang mengumandangkan syair “Suci dalam Debu”, lagu ini sering kita dengar dulu. Bait syairnya selaras dengan menjaga kebenaran di tengah keramaian. Agama dan algoritma bertemu pada satu medan yang sama yaitu perhatian manusia. Algoritma mengejar durasi dan reaksi; agama mengejar makna dan pembentukan akhlak. Jika algoritma cenderung mengangkat yang ramai, agama mengajarkan untuk menimbang yang benar. 

 

Tantangan Studi Islam di era digital bukan sekadar adaptasi teknologi, tetapi menjaga agar kebenaran tidak tenggelam dalam hiruk-pikuk perhatian. Di tengah dunia yang mengagungkan yang viral, Islam diuji pada kemampuannya tetap setia pada nilai. Bak kata orang lama: ramai belum tentu benar, sunyi belum tentu salah. Dalam kebisingan algoritma, justru kejernihan makna itulah yang perlu dipertahankan.(Sumber kemenag.go.id dengan judul yang sama)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan