Agama dan Algoritma: Kebenaran dan Perhatian dalam Studi Islam
Faisal Riza.-Dok Pribadi-
Michel Foucault mengingatkan bahwa kebenaran selalu terkait dengan relasi kuasa (Knowledge as Power). Di era algoritma, kuasa itu tidak lagi hanya berada pada negara atau otoritas keagamaan, tetapi juga pada platform digital. Shoshana Zuboff (2019) menyebutnya sebagai surveillance capitalism, yaitu sebuah sistem yang memantau dan mengarahkan perilaku manusia demi keuntungan. Agama pun masuk dalam orbit ini bukan sebagai sumber nilai, tetapi sebagai komoditas perhatian.
Pada titik inilah metafora “Syaikh Algoritma at-Tiktoky” menemukan penegasannya. Ia bukan ulama dengan sanad keilmuan, melainkan sistem tak kasatmata yang mengatur siapa didengar, ajaran apa yang dianggap penting, dan emosi mana yang layak disebarkan. Algoritma berfungsi layaknya otoritas baru: memberi panggung, memotong wacana, dan membentuk selera keagamaan publik tanpa pernah dimintai pertanggungjawaban etik.
Dalam kondisi ini, otoritas keislaman tidak lagi ditentukan oleh kedalaman ilmu, adab perbedaan, atau konsistensi moral, melainkan oleh statistik—jumlah tayangan, suka, dan bagikan. Oleh karena itu, di Medan khususnya, kita melihat sejumlah penceramah viral, volume undangan ceramah pun meningkat, dan itu berarti harga pasaran meningkat.
Syaikh Algoritma tidak mengajarkan hikmah, tetapi memproduksi kepatuhan melalui kebiasaan menonton; ia tidak membina tafaqquh fi al-dīn, tetapi melatih refleks emosional. Tantangan mendesak bagi Studi Islam di Indonesia adalah membongkar kuasa simbolik ini: mengembalikan agama dari logika viralitas menuju etika kebenaran, dari performa digital menuju tanggung jawab moral. Tanpa upaya kritis tersebut, umat berisiko lebih taat pada perintah linimasa daripada tuntunan nilai yang seharusnya memerdekakan jiwa.
//Dari Keilmuan ke Viralitas
Dalam tradisi Islam, otoritas dibangun melalui disiplin ilmu, kehati-hatian berfatwa, dan tanggung jawab moral. Namun di media sosial Indonesia, otoritas keagamaan kerap berpindah ke figur yang paling piawai membaca algoritma.
Influencer religius dengan gaya retoris yang kuat dan visual menarik sering kali lebih berpengaruh daripada ulama atau akademisi yang bekerja dengan argumen kompleks. Cathy O’Neil (2016) menyebut algoritma sebagai opinions embedded in code. Ketika algoritma memprioritaskan emosi seperti marah, takut, atau kagum, maka wajah Islam yang tampil cenderung binary (hitam-putih, halal-haram, bid’ah-sunnah). Polarisasi mudah terjadi.
Perbedaan mazhab dan khilafiyah, yang dalam sejarah Islam merupakan ruang dialog intelektual, di media sosial berubah menjadi label “benar” dan atau “sesat”.
Dalam konteks Indonesia, ini tampak pada polemik keagamaan yang berulang setiap tahun: soal ibadah, simbol religius, atau perbedaan praktik. Algoritma memperbesar konflik karena konflik menghasilkan perhatian, perhatian menghasilkan uang. Padahal, ada konsep tukang kaco dodol di Bengkel-Perbaungan, “Api kecil jadi kawan, api besar jadi lawan.” Persoalan kecil yang seharusnya bisa didialogkan justru membesar karena logika viralitas.