Agama dan Algoritma: Kebenaran dan Perhatian dalam Studi Islam
Faisal Riza.-Dok Pribadi-
//Etika Perhatian dan Spiritualitas
Masalah utama dari dominasi algoritma bukan sekadar banjir informasi, melainkan krisis perhatian. Dalam Islam, perhatian adalah fondasi etika. Niat (niyyah) menentukan nilai amal; kekhusyukan (khusyū‘) menentukan kualitas ibadah. Namun algoritma digital bekerja dengan memecah fokus manusia melalui notifikasi, linimasa tanpa akhir, dan konten pendek yang serba cepat. Akibatnya, agama berisiko direduksi menjadi konsumsi emosional sesaat. Kesalehan tampil sebagai performa: ibadah didokumentasikan, identitas religius dipamerkan, dan opini keagamaan diproduksi untuk meraih reaksi.
Dalam kearifan hidup orang Melayu Sumatra, terdapat perkataan “Terlalu banyak berkata, kerja tak pula jadi.” Maksudnya, terlalu banyak bicara tentang agama tidak selalu berbanding lurus dengan pendalaman nilai. Studi Islam perlu membaca fenomena ini sebagai persoalan etika hidup kontemporer. Ketika perhatian manusia terus-menerus ditarik keluar, bagaimana mungkin refleksi moral dan spiritual tumbuh?
Dominasi algoritma, dengan demikian, menantang kembali makna tazkiyat an-nafs dalam konteks modern. Jika tradisi Islam klasik menempatkan pengendalian diri, kesabaran, dan keheningan batin sebagai prasyarat kebijaksanaan, maka ekosistem digital justru merayakan kecepatan, respons instan, dan keterlibatan tanpa jeda.
Perhatian manusia diperlakukan sebagai komoditas ekonomi—diperebutkan, diukur, dan dimonetisasi—sehingga waktu hening yang dahulu menjadi ruang muhasabah kini tergerus oleh tuntutan untuk terus “hadir” secara daring. Dalam situasi ini, krisis perhatian bukan hanya problem psikologis, melainkan krisis spiritual: hilangnya jarak reflektif antara dorongan dan tindakan. Agama yang seharusnya membentuk laku hidup berisiko terjebak sebagai simbol identitas yang reaktif, bukan sumber disiplin batin yang transformatif.
Tantangan Studi Islam ke depan bukan sekadar mengkritik teknologi, tetapi merumuskan etika perhatian—bagaimana umat beriman dapat merebut kembali kendali atas fokus, waktu, dan niat di tengah arus algoritmik yang tak pernah tidur.
//Tantangan Studi Islam
Studi Islam hari ini tidak cukup hanya menjawab “apa hukum sesuatu”, tetapi juga “bagaimana pengetahuan agama diproduksi dan disebarkan”. Literasi algoritmik menjadi bagian dari literasi keagamaan. Umat perlu sadar bahwa apa yang muncul di linimasa bukanlah representasi utuh Islam, melainkan hasil kurasi sistem digital.