Psikologi Keluarga dalam Bimbingan Perkawinan
Syafaat-Dok Pribadi-
Binwin memperkenalkan metafora yang lembut namun mendalam: Rekening Bank Hubungan. Setiap senyum adalah setoran, setiap sentuhan adalah tambahan saldo. Setiap kata lembut adalah investasi jangka panjang. Sebaliknya, setiap keluhan yang meledak adalah penarikan besar. Setiap sikap abai adalah kebocoran. Setiap luka emosional adalah transaksi yang menguras tabungan jiwa. Rumah tangga bertahan bukan karena tidak pernah berselisih, tetapi karena simpanan kebaikan jauh lebih kokoh daripada simpanan luka.
Kebutuhan batin setiap pasangan berbeda. Ada yang butuh didengar, ada yang butuh dihargai, ada yang butuh dipeluk, ada yang butuh diajak bicara dengan lembut. Ketika kebutuhan ini tidak dikenal dan tidak disampaikan, cinta tumbuh seperti pohon tanpa akar: hijau di permukaan, rapuh di dalamnya.
Konflik dalam keluarga adalah keniscayaan, yang membedakan keluarga kuat dan keluarga rapuh bukan ada atau tidaknya konflik, tetapi cara mereka melewatinya. Ada empat tingkatan komunikasi: basa-basi yang sopan, debat yang keras, dialog reflektif, dan dialog generatif yang melahirkan solusi serta memperdalam ikatan. Islam telah mengajarkan jalan menuju tingkatan tertinggi itu melalui syura (musyawarah) dan tsamaahah (kelapangan memaafkan).
Kasus publik yang menimpa Valencya, atau Nengsy Lim, menjadi semacam ayat kehidupan yang dibacakan Tuhan melalui peristiwa manusia. Ketika pertengkaran kecil dibiarkan tanpa penawar, ia tumbuh menjadi duri yang menembus dinding rumah. Luka-luka yang tak disembuhkan akhirnya mencari jalan keluarnya sendiri, kadang melalui kata-kata yang melukai, kadang melalui laporan yang menggema hingga ke meja hukum. Pada titik itulah rumah kehilangan makna sucinya sebagai tempat pulang; ia berubah menjadi ruang yang menakutkan, tempat di mana suara bukan lagi dialog, melainkan pertempuran.
Binwin memandang peristiwa ini bukan sebagai cerita yang layak menjadi sensasi. Ia adalah cermin besar yang memperingatkan kita bahwa keluarga adalah unit terkecil peradaban, namun juga yang paling rapuh. Bila ia retak, retaknya tidak berhenti di pintu rumah, gema keretakannya menjalar, merambat ke anak-anak, ke keluarga besar, hingga ke tubuh masyarakat itu sendiri. Sebab rumah yang damai melahirkan masyarakat yang tenang, sementara rumah yang terluka menciptakan gelombang kegelisahan yang meluas. Banyak orang belajar caranya menikah, sangat sedikit yang belajar caranya bertahan. Banyak pasangan hafal ayat tentang sakinah, tetapi tidak tahu bagaimana sakinah itu ditanam dan dirawat. Banyak yang siap mengucap ijab kabul, tetapi tidak siap membuka hati dalam dialog yang jujur dan lembut.
Binwin hadir sebagai jembatan yang menutup jurang itu. Ia mengajarkan pengelolaan emosi, pemahaman kebutuhan diri, seni mendengarkan, ketahanan dalam konflik, dan kemampuan membangun keputusan bersama. Bukan sekadar modul pelatihan, tetapi ibadah yang bekerja dalam diam—membentuk keluarga yang diridhai Allah.
Pada akhirnya, perkawinan adalah ibadah yang paling panjang durasinya. Tidak dibatasi adzan. Tidak ditentukan rukunnya oleh bilangan. Tidak perlu perjalanan jauh seperti haji. Ia hadir dalam setiap detik kehidupan: dalam senyum pagi, dalam perbedaan pendapat, dalam maaf yang diberikan, dalam genggaman tangan yang menenangkan. Karena itu, bimbingan perkawinan bukan formalitas sebelum akad, tetapi penjaga masa depan. Keluarga tidak lahir dari kebetulan; ia tumbuh dari dua insan yang setiap hari memilih untuk tetap menjadi rahmat bagi satu sama lain.