Pendidikan dan Pahlawan yang Terlupakan
Dimas Indianto.-Dok Pribadi-
Padahal, seperti yang ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan sejati bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, melainkan ta’dib, yakni penanaman adab yang membentuk manusia seutuhnya. Bila pendidik dianggap beban, maka yang hilang bukan hanya wibawa mereka, tetapi juga ruh pendidikan itu sendiri.
Dalam konteks ini, bangsa seolah kehilangan arah. Kita sibuk mengejar “standar kompetensi” tapi lupa membangun kemanusiaan. Kita menghitung indeks prestasi, tapi abai terhadap nilai budi. Padahal, tanpa guru, semua cita-cita kemajuan itu hanyalah fantasi yang menggantung di awang-awang.
//Masih Pahlawankan Pendidik?
Pertanyaan ini menyentak nurani: masihkah kita memandang guru sebagai pahlawan? Ataukah mereka kini hanya dianggap pekerja biasa yang dapat dikritik, dilaporkan, bahkan dipenjara hanya karena menegur murid yang keterlaluan?
Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan ironi yang memilukan: guru yang dihukum karena mencubit murid, dosen yang dilaporkan karena memberi nilai sesuai etika akademik, dan lembaga pendidikan yang kehilangan martabatnya karena tekanan publik yang serba instan.
Berkaitan dengan hilangnya pernghormatan terhadap pendidik ini, kita perlu belajar dari sebuah pupuh Maskumambang dalam Serat Wulangreh karya Susuhunan Pakubuwana IV. Pupuh itu berbunyi: Kang atuduh sampurnaning urip/tumekeng antaka/madhangken pethenging ati/anuduhaken marga mulya//wong durhaka ing guru abot Sayekti/mintaa sih ywa nganti/suda kang dadi sihira.
Kurang lebih artinya:/guru yang memberi petunjuk sempurnanya hidup/sampai menjelang ajal/membuat terang segala kegelapan hati /menunjukkan jalan kemuliaan//orang yang durhaka kepada guru sungguh sangat berat kutukannya/oleh karena itu/mengharaplah kasih sayang padanya (dengan berbakti)/jangan sampai kasih sayangnya berkurang bagimu
Inilah tanda-tanda zaman yang disebut Al-Ghazali sebagai masa di mana ilmu kehilangan cahaya dan hanya menjadi alat mencari kedudukan. Dalam Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali menegaskan bahwa guru sejati adalah mereka yang mengajar karena cinta, bukan karena imbalan. Namun bagaimana mungkin cinta bisa tumbuh jika penghargaan terhadap pendidik begitu rendah, dan otoritas moral mereka digerus oleh birokrasi serta tekanan sosial?