Pendidikan dan Pahlawan yang Terlupakan
Dimas Indianto.-Dok Pribadi-
Dr. Dimas Indianto S.,M.Pd.I.
Budayawan, Peneliti, dan Dosen UIN Saizu Purwokerto
PEDIDIKAN adalah napas panjang peradaban. Pendidikan bukan sekadar sistem atau kurikulum yang silih berganti di meja birokrat, melainkan denyut kehidupan bangsa yang menentukan arah masa depannya. Di Indonesia, pendidikan pernah dipandang sebagai panggilan suci, sebuah jalan sunyi yang ditempuh oleh mereka yang bertekad melahirkan manusia merdeka, berakal, dan berbudi.
Namun, di tengah gegap gempita pembangunan dan teknologi, narasi tentang “kepahlawanan” dalam dunia pendidikan perlahan pudar. Para guru dan dosen, yang dahulu dielu-elukan sebagai “pelita dalam kegelapan,” kini seringkali terjebak dalam bayang-bayang formalitas dan tuntutan administratif.
Negeri ini seolah lupa bahwa peradaban tidak dibangun dari beton dan baja, melainkan dari manusia yang tercerahkan. Pendidik—dengan segala keterbatasannya—pernah menjadi arsitek moral bangsa, membangun akal dan jiwa dengan sabar di ruang-ruang kelas sederhana. Namun hari ini, jasa mereka kerap hanya dikenang dalam upacara yang seremonial, diiringi lagu “Hymne Guru” yang dinyanyikan tanpa benar-benar dimaknai. Di balik senyum mereka tersimpan getir, pengakuan yang minim, penghargaan yang formal, dan kehidupan yang sering kali serba pas-pasan.
//Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.” Kalimat itu dulu terasa agung dan sakral, tapi kini mulai kehilangan makna. Dalam praktiknya, penghormatan terhadap guru sering berhenti pada slogan. Di banyak tempat, guru masih harus berjuang di bawah garis sejahtera, bergulat dengan administrasi yang menumpuk, dan kadang terpinggirkan oleh sistem yang lebih menghargai angka daripada makna.
Pergeseran paradigma telah terjadi. Pendidik, yang dahulu menjadi simbol pengorbanan, kini sering dipandang sebagai beban fiskal negara. Dalam laporan keuangan, mereka dihitung sebagai angka pengeluaran, bukan sebagai investasi jangka panjang bagi peradaban.