Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Agama Cinta Jalan Baru Keberagamaan yang Menyejukkan

JB Kleden.-Dok Pribadi-

 

Setiap kali terjadi aksi kekerasan atas nama agama, sangat cepat negara membuat statemen yang menegaskan bahwa aksi itu dilakukan oleh sekelompok kecil oknum yang tidak bertanggungjawab. Kita sangat setuju dengan pernyataan seperti itu karena kita yakini kebenarannya.

 

Namun menghadapi aksi serupa yang terus menerus berulang, sejatinya tidaklah memadai kita terus membatasi diri dengan pernyataan seperti itu. Negara harus hadir mengatasi persoalan intoleransi secara tegas. Sikap indifferen umumnya menguntungkan kelompok intoleran karena merasa diteguhkan dalam aksinya.

 

Untuk mewujudkan Indonesia maju bersatu berdaulat dan rakyat sejahtera, kita perlu mendefinisikan ulang nasionalisme sebagai cinta tanah air yang inklusif. Kita harus bersama-sama merekonstruki dan membangun budaya egaliter, menerima dan menghargai orang berkeyakinan lain, sebagai yang sungguh lain. Itu pris de position para pendiri bangsa.

 

Di tengah tantangan keberagamaan yang semakin kompleks, kita membutuhkan pendekatan spiritual yang lebih lembut, inklusif, dan membumi. Gagasan Agama Cinta dan Kurikulum Cinta dari Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar menjadi jalan baru yang menyejukkan dalam merawat kerukunan dan membangun karakter bangsa yang inklusif.

 

Agama Cinta menempatkan cinta sebagai inti dari seluruh ajaran agama. Dalam pandangan Prof. Nasaruddin, Tuhan adalah sumber kasih sayang, dan umat beragama seharusnya menjadi cerminan dari cinta itu sendiri.

 

Keberagamaan yang marah, eksklusif, dan penuh kebencian adalah bentuk penyimpangan spiritual yang harus diluruskan. Rumah ibadah, dalam semangat Agama Cinta, bukan hanya tempat ritual, tetapi rumah kemanusiaan yang memanusiakan semua orang.

 

Gagasan ini kemudian diwujudkan dalam bentuk Kurikulum Cinta, sebuah pendekatan pendidikan yang mengajarkan lima cinta utama: cinta kepada Tuhan, sesama manusia, hewan, tumbuhan, dan alam semesta. Kurikulum ini tidak hanya mengisi ruang kelas, tetapi juga membentuk ruang batin anak-anak Indonesia agar tumbuh menjadi pribadi yang berempati, peduli, dan berkeadaban.

 

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan