Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Ngaji Fasolatan: Tradisi dan Inovasi

Fauzi-Dok Pribadi-

 

Pada akhirnya, hubungan antara kurikulum Fasolatan dan literasi ibadah ini menegaskan bahwa ibadah yang benar tidak lahir dari hafalan semata, melainkan dari pengetahuan yang terstruktur dan sumber rujukan yang terpercaya.

 

Ngaji Fasolatan menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan Islam di Indonesia memiliki kekayaan metode dan substansi yang relevan lintas zaman. Ia lahir dari kebutuhan praksis masyarakat untuk memahami ibadah paling inti secara cepat, tetapi berkembang menjadi instrumen pembentukan karakter dan spiritualitas.

 

Tantangan modernisasi dan perkembangan teknologi tidak seharusnya mengikis nilai-nilai ini, melainkan menjadi peluang untuk mengemasnya dengan pendekatan yang lebih adaptif dan inklusif.

 

Pengembangan kurikulum Fasolatan oleh Kementerian Agama menjadi langkah strategis yang tidak sekadar menata ulang materi, tetapi juga membangun literasi ibadah yang kokoh di tengah masyarakat. Literasi ini menjadi bekal agar setiap muslim memiliki rujukan yang benar dan terpercaya dalam beribadah, sehingga kualitas pengamalan agama tidak hanya diukur dari gerakan anggota tubuh yang benar, tetapi juga dari kesadaran dan keikhlasan yang menyertainya.

 

Sebagai insan akademik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang mencetak calon pendidik dan pengajar agama Islam, kita memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan warisan ini terus diajarkan dengan semangat zaman. Kita perlu mendorong mahasiswa, guru, dan penyuluh agama untuk menjadi agen yang mampu memadukan akar tradisi dengan sayap inovasi.

 

Dengan demikian, ngaji Fasolatan tidak hanya menjadi materi ajar, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan peradaban yang menghubungkan masa lalu yang penuh hikmah dengan masa depan yang penuh harapan.(sumber kemenag.go.id)**

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan