Ngaji Fasolatan: Tradisi dan Inovasi
Fauzi-Dok Pribadi-
Konteks sosial pun memengaruhi pilihan media. Di wilayah urban yang mobilitasnya tinggi, modul ringkas dan praktis boleh jadi lebih tepat; sedangkan di pedesaan, pembelajaran bisa dikemas dalam forum berjamaah yang memperkuat kebersamaan.
Inklusif berarti ngaji Fasolatan dapat diakses oleh semua kalangan, tanpa memandang usia, gender, latar belakang pendidikan, atau kondisi fisik. Anak-anak dapat belajar melalui ilustrasi bergambar, remaja melalui video interaktif, lansia dengan teks berhuruf besar, tunanetra melalui panduan audio, dan penyandang tuli dengan video bahasa isyarat. Prinsip inklusif juga mengakui keragaman mazhab dalam fikih salat, sehingga peserta memahami perbedaan yang ada sebagai bagian dari kekayaan khazanah Islam untuk memperkuat toleransi, bukan menjadi sumber perpecahan.
Dengan menggabungkan pendekatan kontekstual dan inklusif, ngaji Fasolatan bukan hanya menjadi sarana belajar tata cara ibadah, tetapi juga menjadi media membangun toleransi, memperkuat ukhuwah, dan memelihara tradisi yang bersinergi dengan inovasi.
Literasi Ibadah
Salah satu nilai strategis dari penyusunan kurikulum Fasolatan adalah kontribusinya terhadap penguatan literasi ibadah di tengah masyarakat. Literasi ibadah di sini bukan hanya kemampuan membaca bacaan salat atau menghafal urutannya, tetapi juga mencakup pemahaman yang benar tentang makna, rukun, syarat, serta hikmah di balik setiap ibadah.
Kurikulum Fasolatan yang disusun secara sistematis memungkinkan masyarakat memiliki referensi otoritatif yang dapat dijadikan pegangan bersama, sehingga mengurangi kebingungan akibat perbedaan sumber atau informasi yang tidak valid. Dengan adanya kurikulum, peserta didik baik di pesantren, madrasah, sekolah, maupun majelis taklim dapat belajar ibadah dengan alur yang jelas: mulai dari pengenalan konsep ibadah, pemahaman makna gerakan dan bacaan, praktik langsung, hingga evaluasi kemampuan.
Setiap tahap pembelajaran dibekali modul dan media yang memudahkan penguasaan materi, termasuk ilustrasi gerakan, penjelasan dalil, serta variasi bacaan yang sesuai dengan ragam mazhab yang diakui.
Lebih jauh, kurikulum Fasolatan juga menjadi instrumen penting untuk membangun keseragaman pemahaman tanpa meniadakan kekayaan tradisi lokal. Standar ini memastikan bahwa setiap Muslim, di mana pun ia berada, memiliki akses pada referensi yang sama tentang cara beribadah, yang bersumber dari literatur Islam yang kuat. Dengan begitu, literasi ibadah tidak hanya melahirkan keterampilan teknis dalam salat, tetapi juga kesadaran mendalam tentang posisi ibadah sebagai inti kehidupan spiritual seorang muslim.