Rokok Ayah
Rokok Ayah.-ilustrasi-
Aku langsung memeluk Ayah. Sedangkan adikku yang kupastikan belum mengerti, juga menghampiri kami dan ikut memeluk. Melihat adikku memeluk, bunda juga menghampiri ikut berpelukan.
Benar sekali, malamnya ayah pulang dengan kepala plontos. Istilahnya agus (agak gundul sedikit). Ayah lebih rapi.
Nah kan lebih segar dan ganteng, kataku saat itu.
Ayah hanya tersenyum. Juga bunda dengan jempolnya. Adikku juga ikut mengacungkan jempolnya.
Meski sudah ada perubahan, aku belum begitu gembira. Karena keinginanku ayah berhenti merokok. Aku yakin Ayah akan berhenti merokok. Tapi pelan-pelan. Buktinya, sejak peristiwa kubuang rokok ayah dan sering kukirim artikel serta poster bahaya rokok, ayah sudah mulai jarang terlihat merokok jika di rumah.
Bukan hanya itu, di teras aku sudah memasang papan peringatan dilarang merokok. Papan itu aku beli di toko buku saat pulang sekolah. Tulisan warnah merah lengkap dengan gampar rokok yang dicoret.
Aku juga melakukan aksi menghindar. Setiap ayah mendekat aku menolak dengan alasan bau rokok.