Misbar Ingin Mengajar Lagi
Syabaharza.-Dok Pribadi-
Misbar memegang erat gunting yang sudah dibawanya sedari tadi. Satu persatu rambut siswa itu dipotongnya. Namun karena ia bukan seorang barber yang andal, potongan rambut siswa itu sangat berantakan. Selama proses pemotongan beberapa siswa, semua berjalan lancar, tidak ada perlawanan sama sekali. Sampai pada siswa yang terakhir dengan rambut berwarna coklat, Misbar tanpa ragu.
“Jangan dipotong rambut saya, pak!”
Siswa berambut coklat itu memohon kepada Misbar dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
“saya takut nanti orang tua saya marah.”
Siswa itu terus membujuk Misbar, kali ini ia mengutarakan alasannya.
Rambut siswa itu memang terlihat nyentrik. Tampaknya ia mengeluarkan banyak biaya untuk menciptakan gaya rambut seperti itu. Hal itu tentu tidak masalah baginya, karena siswa itu tergolong dari keluarga yang super tajir, sehingga ia mampu melakukan itu. Dan informasinya keluarga siswa tersebut termasuk donator tetap sekolah tempat Misbar mengajar.
Namun, Misbar tidak memedulikan semua itu, lagi pula ia harus berlaku adil. Ia harus menerapkan peraturan sekolah kepada semua orang tanpa pandang bulu, tanpa melihat keluarga, dan tanpa alasan apa pun.
***
Sehari setelah kejadian pemotongan rambut oleh Misbar terhadap anak didiknya. Misbar mendapatkan sebuah pesan lewat whatsapp dari sekolah tempatnya mengajar. Sebuah pesan yang tidak pernah dibayangkan oleh Misbar. Sebuah pesan yang menentukan masa depannya. Pesan singkat yang mungkin saja menjadi penyesalan Misbar ketika membukanya.