Lempah Terakhir Mak
Nurul Fitriana.-Dok Pribadi-
“Lalu, untukku apa Mak? Warung lempah kuning ini?” Desak Jul ketika melihat Mak dan Bak sedang duduk di teras rumah.
“Warung ini tanahnya bagian dari rumah ini, Jul.”
“Jujur saja, Mak dan Bak malu karena kerjaku serabutan, kan?”
Begitulah Jul, ia merasa jika labelnya sebagai anak bungsu saja tidak menjamin kebahagiaan. Bahkan, bagi Jul keuntungan yang orang-orang ceritakan mengenai enaknya jadi anak bungsu karena selalu dimanja justru sebuah ketidakmungkinan.
Sedari dulu, Mak dan Bak selalu menunjukkan kasih sayang kepada Bang Yan dan Yuk Lis. Sempat terlintas di benak Jul bila sebetulnya ia merupakan anak yang tak diharapkan. Hal ini jelas karena ia merupakan anak ketiga dengan jarak kelahiran yang cukup jauh dari kedua kakaknya. Bahkan saat masuk SMA, Bang Yan sudah dibelikan motor baru oleh Mak dan Yuk Lis mendapatkan laptop mahal karena ingin masuk jurusan komputer, sedangkan Jul? Ia hanya mendapatkan motor dan laptop bekas pemakaian kakak-kakaknya. Jika orang beranggapan bahwa tiap orang akan mendapat keberuntungan yang berbeda, Jul menepisnya. Baginya, ia tak pernah merasa beruntung dalam hal keluarga, pekerjaan, bahkan pasangan. Hingga detik ini, tak ada satupun wanita yang tertarik padanya. Semua keberuntungan terasa seakan berlari darinya.
Di hari kepergian Mak, seperti biasa Jul pergi ke tambang. Namun, siang itu warung terasa sangat ramai dan Mak terlihat kewalahan melayani pembelinya. Melihat itu, tentu tidak membuat Jul menarik hatinya untuk ikut membantu, ia justru berjalan mengendap-endap agar keberadaannya tak dilihat oleh Mak.
“Jul, hari ini jangan ke tambang dulu ya. Mak gak bisa ngurus warung sendiri. Bak ada kerjaan juga.” Panggil Mak ketika melihat bayangan Jul dari balik pintu.
Mendengar hal itu, ia memasang wajah kesal dan melengos pada Mak.
“Ga bisa, Mak. Hari ini orang buka sakan, kalau tak datang sayang.”
Wajah Mak seakan mengatakan bahwa ada hal yang ingin ia sampaikan. Namun, Jul tak mengindahkannya. Ia terus melenggangkan kaki dari rumahnya.
“Setidaknya, makan dulu sebelum pergi, Nak. Mak sudah masak lempah kuning ikan tenggiri untukkmu.” Pinta Mak dengan suara samar.
Rupanya, di balik mangkuk lempah terakhir Mak, ada wasiat yang bertulis “Selamat ulang tahun, Nak. Pakai uang ini untuk cita-citamu!” tepat di sebelahnya, terdapat buku tabungan hasil jualan Mak selama 25 tahun ini. (Nurul Fitriana merupakan Tutor Bahasa Indonesia di Corien Center)
Program Tajuk Bastra Tahun 2025, telah berakhir.