Amplop
Marhaen Wijayanto.-Dok Pribadi-
Di amplop tali asih itu saya melukiskan impian. Anak dan cucu para pejuang itu saya berikan watak mulia. Meski pena warna di tangan saya sederhana, paling tidak di sana saya bisa melukiskan apa saja tentang masa depan saya. Apapun bisa saya lakukan dengan pena di atasnya. Amplop tali asih itu rupanya hanya sekadar numpang lewat bagi kehidupan kami.
Hari ini saya menikmati sebungkus nasi berdua dan dua plastik teh sembari menunggu pasar sepi. Tenaga kami habis setelah seharian menjadi pelayan orang-orang berjualan di pasar. Tetapi daripada harus diajar guru yang galak itu, lebih baik saya ke pasar.
Tak lama kemudian saya terlelap karena kekenyangan di pangkuan kakek. Tikar dari karung melindungi dari tanah di bawah pohon pinggiran pasar itu. Paling tidak saya besok dan lusa bisa masuk sekolah, tak membantu kakek mengangkut barang.
Sejam kemudian kakek mengambil sepeda tua yang dititip di emperan toko. Kami mengayuh pelan benda kuno itu menyusuri jalanan kering pinggiran sawah. Kakek yang mulai tak kuat mengayuh jauh di siang hari mengajak minum es di bawah pohon rindang. Kakek dan penjual es itu berusia hampir sama, mereka saling tawa karena panas terik membuat es di gerobak sederhana itu laku.
“Oalah, kuli kapur, kuli kapur... senasib dengan kuli gelas! Hahaha!” ujar Atok Es.
Kami sering memanggil penjual es itu dengan sebutan Atok Es. Kakek dan sahabatnya itu saling canda tanpa beban. Mungkin merasa apa yang dijalani dan diperoleh sudah jadi pilihan. Perkerjaan mereka bukan lagi beban, melainkan hiburan penunda panggilan Tuhan.
Dengan sepeda besar tua, tiap hari saya dan kakek berangkat ke sekolah. Beda dari teman, yang diantar dengan motor atau mobil, sepeda tua kakek yang besinya usang mengatar menyusuri jalanan lurus di kampung. Tak hanya mengantar bekerja, sudah puluhan tahun, benda antik itu juga mengantar orang tua saya ketika masih sekolah.
Hari ini saya harus masuk kelas. Saya yang beberapa hari tak masuk sekolah mendapat interogasi dari guru kelas. Saya menangis, guru itu sangat galak. Kakek yang mendengar bentakan itu membalikkan badan dan mengajak saya kembali ke pasar. Kakek tak berdaya. Ia hanya seorang guru tua, namun statusnya hanya guru bantu. Ia kalah melawan guru muda dengan pangkat tinggi di sekolah.
Beliau menanggalkan kapur di meja. Kapur itu sepertinya ikut terisak, satu butir menangis, tetapi butir kapur lain menghibur. Beda dengan saya, hanya pemuas emosi guru muda tanpa teman menghibur. Kapur kakek bersedih karena bentakan itu. Mereka melambai pada kami yang kembali ke pasar.
Dengan seragam kusuma bangsa yang masih dipakai kakek, kami pun kembali mengayuh sepeda tua. Apalagi hari ini sekolah memulangkan siswanya lebih cepat, guru-guru akan rapat. Katanya akan membahas lomba mirip-mirip pahlawan. Kakek tidak ikut, toh cuma berstatus guru bantu. Ibu kepala sekolah berlari menyerahkan amplop, katanya untuk jajan saya. Kakek menerima amplop itu sembari menangis, ibu kepala sekolah juga terisak tersedu-sedu.
Beliau yang guru veteran tertegun sejenak. Ia mengelap kacamatanya. Tampaknya kacamata itu agak berembun karena isakkan dari matanya yang renta. Selain itu, kabut turun dari kaki Gunung Maras ke perkampungan. Kabut itu menjelma pecaha embun yang sedikit menghalangi pandangan mata kakek. Orang di sekitar kami tak melihat air di balik kacamata kakek.
Setelah dibentak guru yang paling galak, saya kembali ke dunia yang lebih berguna, yaitu pasar yang riuh. Beberapa orang sengaja menyuruh kami karena memang berniat memberi uang. Tampaknya mereka mantan siswa kakek. Beberapa amplop kembali mereka berikan, mungkin sadar hari itu adalah hari guru.
Enaknya hidup di zaman sekarang. Mereka bisa dengan tenang menaiki mobil mewah dengan pendingin yang harum. Sementara masih ada orang bertaruh nyawa dari masa lalu hanya menerima amplop tak tentu. Pembungkus dari kertas, namun amplop kertas tak bisa jadi penyangga yang tangguh. Tak memberi jaminan hari esok, bahkan para pahlawan itu harus terseok-seok menyambung napasnya.**