Puisi, Nurani, dan Keberagaman
Abdul Wachid.-Dok Pribadi-
Di saat dunia kadang dikuasai suara keras, polarisasi, ujaran kebencian, konflik norma; puisi hadir sebagai kekuatan kecil yang menenangkan. Ia adalah “zikir berbahasa” yang mengajarkan bait keindahan, bait keadilan, dan bait kedamaian. Di tangan santri, puisi bisa menjadi instrumen dakwah halus, tidak dengan kritik tajam, tetapi dengan pengharapan penuh keteduhan.
Meneguhkan puisi adalah meneguhkan nurani bangsa; meneguhkan keberagaman; dan meneguhkan Islam Nusantara sebagai agama cinta yang inklusif. Mari kita terus menghidupkan, menyebarkan, dan merawat puisi, sebagai wajah keislaman yang penuh rasa dan ruang bagi semua.(Sumber kemenag.go.id dengan judul yang sama)*