Baca Koran babelpos Online - Babelpos

Puisi, Nurani, dan Keberagaman

Abdul Wachid.-Dok Pribadi-

 

Contoh kontemporer: puisi-puisi santri di Sawahlunto dan Magelang menarasikan pluralitas budaya, dari masjid dan candi, dari bahasa Minangkabau dan Jawa, hingga ungkapan cinta terhadap masyarakat adat. Dalam dunia yang cenderung dibelah oleh label, puisi tetap mampu mempersatukan dengan lantunan kata yang damai, halus, dan inklusif.

 

Bahasa Keheningan: Irama Dzikir dalam Kata

​​​​​​​Puisi membutuhkan hening. Tidak semua kata harus diarahkan pada logika. Hening dalam puisi mirip hening pada salat atau zikir: ruang-ruang antara kata menciptakan resonansi, gema makna di dalam diri. Syair sufi, khususnya, sering berfungsi sebagai dzikir estetik: membaca puisinya adalah berzikir dengan bahasa yang puitis.

 

Menurut Annemarie Schimmel, pakar sufistik, “poetry is the language of the heart”, dan dalam tradisi Islam, puisi adalah jalan untuk menghadapi Tuhan melalui keindahan makna. (Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, 1975:45.)

 

Merawat Nurani di Tengah Kekerasan Verbal

Di media sosial, kata sering jadi senjata: memaki, mencerca, menyebar fitnah. Puisi bekerja sebaliknya: memperlambat detak, memberi ruang untuk mendengar, rasa, memikir, dan memahami. Ada fenomena komunitas “ngaji puisi” yang muncul di kota-kota besar, pembacaan syair dengan tema kegelisahan masa, keberadaan minoritas, atau kerinduan spiritual, yang menjadi ruang menenangkan di tengah kegaduhan digital.

 

Puisi mengajak: “Sebelum kau lempar kata, sadarlah: engkau sedang mengukir sejarah dalam balok emosi.” Format panjangnya sedikit, tapi tegas memanggil nurani kita.

 

Puisi-santri: dari Pesantren ke Panggung Kebangsaan

Santri-santri kita telah mulai menapaki panggung puisi di ranah nasional. Misalnya, Fajrul Alam (Purwokerto) menulis puisi tentang kerukunan budaya Banyumas dan akar agrarisnya. Ulfatin Ch (Yogyakarta) menyuarakan puisi lintas gender dan spiritualitas. Ini bukan puisi tekstual semata, tapi ekspresi batin dan lokasi sosial, yang merekat antara zikir pesantren dan dinamika kekinian. Dengan bahasa lemah lembut namun tegas, mereka menunjukkan bahwa puisi bisa menjadi gaya dakwah kultural.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan