Hutan adalah Ibu, Mapur adalah Anak
Dwi Jati Marta.-screenshot-
tapi mengapa tanah jadi tak bersahabat?
Rumah-rumah dekat tambang retak perlahan,
sementara hasil bumi hilang tak berkesan.
Zirkon dan monasit tak sekadar hasil,
ia membawa jejak radiasi yang lincah dan licik.
Jika tanah adalah ibu,
mengapa tubuhnya kita cemari tanpa ragu?
Timah menghidupi, tapi juga mengiris,
ada kenyang hari ini dan lapar esok yang miris.
Anak cucu menatap warisan tak pasti,
mewarisi tanah yang kehilangan fungsi.
Bangka bukan hanya ladang logam,
ia puisi, hutan, dan ladang yang ramah.
Tapi hari ini ia jadi ladang taruhan,