Hutan adalah Ibu, Mapur adalah Anak
Dwi Jati Marta.-screenshot-
Bahagia mereka tak gemuruh atau gaduh,
Hanya sebatas lebah dan langkah luwak melinting.
Namun kini matahari terhalang gergaji,
Tanah leluhur digerogoti ekskavator.
Sungai-sungai kehilangan nama-nama tua,
Dan hutan dipereteli, tubuhnya terkoyak getir.
Diam-diam, cepat-cepat atas nama tambang,
Pembangunan menggusur akar dan suara.
Tak ada jeda bagi pohon untuk berdoa,
Tak ada ruang bagi semesta untuk bicara.
Di mana lagi perempuan Mapur bersenyum?
Menyulam hari dengan tenang dan khidmat.
Di mana anak-anak belajar dari akar?
Jika hutan musnah, musnahlah hikmat.