Literasi dalam Bayang-Bayang Layar
Syahrezy Fajar-Dok Pribadi-
Beberapa negara telah memulai langkah integratif antara dunia layar dan dunia baca. Di Finlandia, misalnya, pemerintah bekerja sama dengan kanal digital untuk membuat konten yang mendukung literasi anak. Buku-buku cerita diintegrasikan ke dalam aplikasi interaktif, yang tidak hanya menghibur tapi juga menumbuhkan minat baca.
Di Jepang, budaya manga dijadikan pintu masuk literasi. Anak-anak diajak membaca lewat media visual yang mereka sukai, lalu secara bertahap dikenalkan pada bentuk teks yang lebih kompleks. Pendekatan ini membuktikan bahwa teknologi tidak harus menjadi lawan literasi, melainkan dapat menjadi jembatannya asal diarahkan dengan bijak.
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks. Literasi adalah kemampuan memahami, mengolah, dan memaknai informasi. Dalam dunia yang dipenuhi konten, hoaks, dan disinformasi, literasi menjadi benteng terakhir agar generasi muda tidak tumbuh sebagai penonton pasif, tetapi sebagai pemikir kritis.
Kita tidak ingin anak-anak Indonesia tumbuh hanya sebagai pengguna TikTok yang lincah menari, tapi gagal memahami makna sebuah cerita. Kita tidak ingin generasi yang pandai menyimak drama Korea tapi sulit menganalisis teks fabel. Literasi harus dikembalikan sebagai budaya, bukan sekadar keterampilan teknis.
Di tengah laju teknologi yang tak terhindarkan, pertaruhan terbesar bangsa ini bukan pada seberapa canggih gawai yang digunakan anak-anak kita, melainkan seberapa kuat kemampuan mereka untuk membaca, memahami, dan berpikir. Kita butuh generasi yang tidak hanya bisa menggulir layar, tetapi juga bisa menyelami makna.
Jika kita gagal menanamkan budaya literasi hari ini, kelak kita akan panen generasi yang kehilangan arah di tengah derasnya informasi. Tapi jika kita berhasil, maka dari balik layar-layar itu akan muncul generasi baru yang bukan hanya cakap digital, tapi juga tangguh dalam berpikir, menulis, dan memimpin peradaban.**